Indikasi Terapi dengan Insulin
1. Semua penyandang DM tipe I memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin oleh sel beta tidak ada atau hampir tidak ada.
2. Penyandang DM tipe II tertentu mungkin membutuhkan insulin bila terapi jenis lain tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah.
3. Keadaan stres berat seperti pada infeksi berat, tindakan pembedahan, infark miokard akut atau stroke.
4. DM gestasional dan penyandang DM yang hamil membutuhkan insulin bila diet saja tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah.
5. Ketoasidosis diabetic.
6. Hipoglikemik hiperosmolar non-ketotik.
7. Penyandang DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori, untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat, secara bertahap memerlukan insulin eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan insulin.
8. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
9. Kontraindikasi atau alergi terhadap obat hipoglikemi oral.
Selasa, 26 Juli 2011
Sindrom fibromialgia
Sindrom fibromialgia adalah penyakit yang sering terjadi dalam praktik medis sehari-hari. Gangguan ini ditandai oleh nyeri muskuloskeletal difus, kekakuan badan yang biasanya timbul pada saat bangun pagi dan membaik pada siang hari, parestesia, gangguan tidur, dan keluhan lemah otot. Gejala ini diperberat oleh stres emosional dan cuaca yang dingin dan lembap.
Sindrom ini sering kali disertai berbagai penderitaan yang bersifat psikosomatis, seperti nyeri perut, nyeri kandung kemih, nyeri kepala, migren, dismenore, dan lain-lain. Meskipun sindrom ini bukan merupakan penyakit yang mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan distres yang hebat pada pasien dan perasaan tidak berdaya serta frustrasi pada dokter yang berupaya mengobatinya.
Etiologi penyakit ini masih belum jelas. Faktor stres emosi, psikologis, dan disfungsi sistern saraf psikovegetatif berperan dalam penyakit ini. Sindrom fibromialgia terutama menyerang perempuan berusia antara 25 dan 45 tahun.
Fibromialgia dapat timbul pada pasien dengan artritis rematoid atau penyakit jaringan ikat lainnya, yang disebut sindrom polimialgia rematika. Sindrom ini biasanya terjadi pada orang lanjut usia, ditandai oleh rasa nyeri sendi proksimal serta nyeri otot. Keadaan ini biasanya disertai arteritis temporalis.
Sindrom ini sering kali disertai berbagai penderitaan yang bersifat psikosomatis, seperti nyeri perut, nyeri kandung kemih, nyeri kepala, migren, dismenore, dan lain-lain. Meskipun sindrom ini bukan merupakan penyakit yang mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan distres yang hebat pada pasien dan perasaan tidak berdaya serta frustrasi pada dokter yang berupaya mengobatinya.
Etiologi penyakit ini masih belum jelas. Faktor stres emosi, psikologis, dan disfungsi sistern saraf psikovegetatif berperan dalam penyakit ini. Sindrom fibromialgia terutama menyerang perempuan berusia antara 25 dan 45 tahun.
Fibromialgia dapat timbul pada pasien dengan artritis rematoid atau penyakit jaringan ikat lainnya, yang disebut sindrom polimialgia rematika. Sindrom ini biasanya terjadi pada orang lanjut usia, ditandai oleh rasa nyeri sendi proksimal serta nyeri otot. Keadaan ini biasanya disertai arteritis temporalis.
Mielitis Transversa akut
Mielitis transversa akut adalah peradangan pada medula spinalis yang disebabkan oleh proses infeksius atau noninfeksius. Terdapat penurunan fungsi neurologis secara cepat di bawah segmen medula spinalis yang mengalami peradangan, seperti paralisis dan penurunan sensasi, sedangkan fungsi neurologis di atas segmen medula spinalis yang mengalami peradangan tidak mengalami kelainan. Sering terdapat paralisis atonik pada kandung kemih, disfungsi usus, dan gangguan fungsi otonom. Gejala mielitis dapat disertai gangguan penglihatan akut yang terasa nyeri, dan neuritis optik bilateral yang dapat berlanjut hingga timbul kebutaan dalam waktu beberapa jam, varian ini disebut neuromielitis optika atau penyakit Devic.
Dua aspek terpenting pada penanganan mielitis transversa akut adalah melakukan pemeriksaan pencitraan darurat pada medula spinalis dan pemeriksaan fisik yang sering. MRI sebaiknya dilakukan secepat mungkin untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kompresi medula spinalis akut. Kompresi medula spinalis yang disebabkan oleh lesi massa diobati dengan melakukan radiasi atau pembedahan darurat.
Pada mielitis transversa akut, cairan serebrospinal secara tipikal mengandung kurang dari 200 sel mononuklear per milimeter kubik, kadar protein yang normal atau sedikit meningkat, dan kadar glukosa normal. Penyebab infeksius mielitis adalah sitomegalovirus, virus herpes simpleks tipe 1 dan 2, virus Epstein-Barr, virus koksaki, virus echo, virus polio, Treponema pallidum, Borrelia burgdorferi, dan Mycobacterium tuberculosis. Dua penyebab noninfeksius terpenting pada mielitis transversa adalah sklerosis multipel dan lupus eritematosus sistemik.
Pengobatan mielitis transversa bergantung pada patogenesis yang mendasarinya. Pencegahan timbulnya komplikasi yang berupa inaktifitas, diindikasikan untuk melakukan fisioterapi, katerisasi kandung kemih intermiten, dan melakukan profilaksis terhadap trombosis vena dalam.
Dua aspek terpenting pada penanganan mielitis transversa akut adalah melakukan pemeriksaan pencitraan darurat pada medula spinalis dan pemeriksaan fisik yang sering. MRI sebaiknya dilakukan secepat mungkin untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kompresi medula spinalis akut. Kompresi medula spinalis yang disebabkan oleh lesi massa diobati dengan melakukan radiasi atau pembedahan darurat.
Pada mielitis transversa akut, cairan serebrospinal secara tipikal mengandung kurang dari 200 sel mononuklear per milimeter kubik, kadar protein yang normal atau sedikit meningkat, dan kadar glukosa normal. Penyebab infeksius mielitis adalah sitomegalovirus, virus herpes simpleks tipe 1 dan 2, virus Epstein-Barr, virus koksaki, virus echo, virus polio, Treponema pallidum, Borrelia burgdorferi, dan Mycobacterium tuberculosis. Dua penyebab noninfeksius terpenting pada mielitis transversa adalah sklerosis multipel dan lupus eritematosus sistemik.
Pengobatan mielitis transversa bergantung pada patogenesis yang mendasarinya. Pencegahan timbulnya komplikasi yang berupa inaktifitas, diindikasikan untuk melakukan fisioterapi, katerisasi kandung kemih intermiten, dan melakukan profilaksis terhadap trombosis vena dalam.
Gejala-gejala Alzheimer yang Tampak
“Melihat ke belakang selalu lebih baik daripada memimpikan masa depan,” menurut seorang perawat. “Saya pikir alasan mengapa saya tidak sejak awal melihat gejala-gejala yang tampak pada isteri saya karena saya selalu bersamanya setiap saat. Perubahannya begitu tidak jelas, terjadi sedikit demi sedikit.”
Mungkin hal yang paling menakjubkan pada tahap paling awal penyakit Alzheimer ini adalah ketidakjelasannya. Tanda-tanda dan gejala merayap perlahan dan membuat kita tidak waspada, yang membuat kita maupun orang yang kita rawat itu terperanjat. Sejalan dengan berlalunya waktu, kemunduran mental dan fisik penderita penyakit Alzheimer menjadi semakin berat dan parah.
Di samping itu tidak ada dua penderita yang mengalami kemunduran dengan kecepatan maupun pola yang persis sama, namun ada beberapa perubahan aneh pada tingkah laku dan kepribadian yang khas di setiap tahap penyakit ini. Mengetahui perubahan-perubahan ini dapat menolong Anda meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi orang yang Anda rawat. Mengerti akan tanda dan gejala-gejala penyakit Alzheimer merupakan kunci yang sangat penting untuk merawat penderita.
Tahap awal penyakit Alzheimer berlangsung rata- rata dua sampai empat tahun. Gejala-gejala awal penyakit Alzheimer dapat termasuk salah satu atau semua di bawah ini:
Hilang ingatan. Peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi terlupakan. Kemampuan untuk berkonsentrasi, belajar hal-hal yang baru dan mencerna informasi-informasi baru secara progresif hilang. Tagihan-tagihan tidak dibayar atau dibayar beberapa kali. Pemakaian uang melebihi jumlah simpanannya di bank bila penderita mulai mengalami masalah dalam hal menghitung, menjumlah dan mengurangi. Nama-nama orang yang dikenal atau dicintainya pun juga dapat dilupakan.
Para penderita penyakit Alzheimer sering mengkompensasi, pada awalnya, dengan menulis dalam buku catatan untuk dirinya sendiri. Tetapi sejalan dengan perkembangan penyakitnya itu, mereka bahkan tidak ingat akan catatannya itu. Mereka seringkali menyangkal mengalami gejala-gejala ini dan berusaha keras mempertahankan harga diri dan jati dirinya. Bingung dan disorientasi. Bingung sering berkaitan dengan waktu dan tempat. Orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer kadang-kadang tersesat di suatu tempat atau tiba di suatu tempat dan tidak tahu tempat mereka berada dan cara pulang ke rumah. Hari dan buIan juga terlupakan.
Gangguan berbicara dan berbahasa. Mungkin terdapat suatu ketidakmampuan yang progresif untuk menyebutkan nama benda-benda atau untuk mengakhiri sebuah kalimat. Orang tersebut mencari-cari kata ataupun penggalan kalimat sehingga kata-kata atau penggalan kalimat yang salah digunakan untuk menggantikan yang terlupakan tadi.
Keputusan yang terganggu. Terdapat kekurangan dalam hal memberikan pandangan dan berkembang menjadi ketidakmampuan dalam membedakan, mengerti atau mengikuti perintah. Kemampuan mengemudi mengalami kemunduran secara progresif; penderita dapat lupa ber-henti di persimpangan jalan atau mengemudikan kendaraan di jalan yang salah, misalnya, di jalan satu arah. Kemampuan membaca dapat bertahan tetapi tidak demikian dengan kemampuan untuk mengerti apa yang dibacanya.
Kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang biasa di-kerjakannya. Penderita kemudian secara bertahap mengalami kesulitan dalam memasak, membersihkan, melakukan hobi-hobi yang disukainya, atau bertahan pada satu pekerjaan. Aktivitas kehidupan hariannya yang rutin tidak dapat dilakukan lagi. Misalnya, jadi terganggu kemampuan mengikat tali sepatu, mengancingkan kemeja atau membuat secangkir kopi.
Perubahan kepribadian dan suasana hati. Depresi seringkali menyertai tahap awal penyakit Alzheimer. Mungkin timbul kelesuan, apati, kecurigaan, paranoia, penarikan diri dari pergaulan sosial atau penderita didapati sering menangis. Sebaliknya mungkin juga timbul keresahan, kekhawatiran, gelisah dan perasaan “menjadi gila”. Di satu pihak orang-orang menyangkal keparahan gejala-gejala mereka ini, di pihak lain, mereka mengenali ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.
Kesembronoan dan kelalaian. Kebersihan perseorangan dapat menjadi masalah, dan penderita mungkin tampil tidak teratur atau tidak rapi. Mereka lalai mandi, menggosok gigi, mengganti atau mencuci pakaiannya, bahkan mungkin lupa bagaimana cara melakukannya.
Setelah didiagnosis, orang-orang yang merawat penderita selalu bertanya kepada dokternya, “Berapa lamakah waktu yang kita punya? Berapa bulan atau berapa tahun?” Selalu timbul keinginan untuk mengetahuinya.
Waktu antara mulai timbul gejala penyakit Alzheimer sampai kematian penderitanya sangatlah beragam. Mungkin beberapa tahun atau bahkan dua puluh tahun, tergantung pada sejumlah faktor lain yang berpengaruh pada kesehatannya. Secara umum dapat dikatakan, semakin muda seseorang menderita penyakit ini, semakin cepat is mengalami kerusakan dan kemunduran.
Mungkin hal yang paling menakjubkan pada tahap paling awal penyakit Alzheimer ini adalah ketidakjelasannya. Tanda-tanda dan gejala merayap perlahan dan membuat kita tidak waspada, yang membuat kita maupun orang yang kita rawat itu terperanjat. Sejalan dengan berlalunya waktu, kemunduran mental dan fisik penderita penyakit Alzheimer menjadi semakin berat dan parah.
Di samping itu tidak ada dua penderita yang mengalami kemunduran dengan kecepatan maupun pola yang persis sama, namun ada beberapa perubahan aneh pada tingkah laku dan kepribadian yang khas di setiap tahap penyakit ini. Mengetahui perubahan-perubahan ini dapat menolong Anda meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi orang yang Anda rawat. Mengerti akan tanda dan gejala-gejala penyakit Alzheimer merupakan kunci yang sangat penting untuk merawat penderita.
Tahap awal penyakit Alzheimer berlangsung rata- rata dua sampai empat tahun. Gejala-gejala awal penyakit Alzheimer dapat termasuk salah satu atau semua di bawah ini:
Hilang ingatan. Peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi terlupakan. Kemampuan untuk berkonsentrasi, belajar hal-hal yang baru dan mencerna informasi-informasi baru secara progresif hilang. Tagihan-tagihan tidak dibayar atau dibayar beberapa kali. Pemakaian uang melebihi jumlah simpanannya di bank bila penderita mulai mengalami masalah dalam hal menghitung, menjumlah dan mengurangi. Nama-nama orang yang dikenal atau dicintainya pun juga dapat dilupakan.
Para penderita penyakit Alzheimer sering mengkompensasi, pada awalnya, dengan menulis dalam buku catatan untuk dirinya sendiri. Tetapi sejalan dengan perkembangan penyakitnya itu, mereka bahkan tidak ingat akan catatannya itu. Mereka seringkali menyangkal mengalami gejala-gejala ini dan berusaha keras mempertahankan harga diri dan jati dirinya. Bingung dan disorientasi. Bingung sering berkaitan dengan waktu dan tempat. Orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer kadang-kadang tersesat di suatu tempat atau tiba di suatu tempat dan tidak tahu tempat mereka berada dan cara pulang ke rumah. Hari dan buIan juga terlupakan.
Gangguan berbicara dan berbahasa. Mungkin terdapat suatu ketidakmampuan yang progresif untuk menyebutkan nama benda-benda atau untuk mengakhiri sebuah kalimat. Orang tersebut mencari-cari kata ataupun penggalan kalimat sehingga kata-kata atau penggalan kalimat yang salah digunakan untuk menggantikan yang terlupakan tadi.
Keputusan yang terganggu. Terdapat kekurangan dalam hal memberikan pandangan dan berkembang menjadi ketidakmampuan dalam membedakan, mengerti atau mengikuti perintah. Kemampuan mengemudi mengalami kemunduran secara progresif; penderita dapat lupa ber-henti di persimpangan jalan atau mengemudikan kendaraan di jalan yang salah, misalnya, di jalan satu arah. Kemampuan membaca dapat bertahan tetapi tidak demikian dengan kemampuan untuk mengerti apa yang dibacanya.
Kesulitan menyelesaikan tugas-tugas yang biasa di-kerjakannya. Penderita kemudian secara bertahap mengalami kesulitan dalam memasak, membersihkan, melakukan hobi-hobi yang disukainya, atau bertahan pada satu pekerjaan. Aktivitas kehidupan hariannya yang rutin tidak dapat dilakukan lagi. Misalnya, jadi terganggu kemampuan mengikat tali sepatu, mengancingkan kemeja atau membuat secangkir kopi.
Perubahan kepribadian dan suasana hati. Depresi seringkali menyertai tahap awal penyakit Alzheimer. Mungkin timbul kelesuan, apati, kecurigaan, paranoia, penarikan diri dari pergaulan sosial atau penderita didapati sering menangis. Sebaliknya mungkin juga timbul keresahan, kekhawatiran, gelisah dan perasaan “menjadi gila”. Di satu pihak orang-orang menyangkal keparahan gejala-gejala mereka ini, di pihak lain, mereka mengenali ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.
Kesembronoan dan kelalaian. Kebersihan perseorangan dapat menjadi masalah, dan penderita mungkin tampil tidak teratur atau tidak rapi. Mereka lalai mandi, menggosok gigi, mengganti atau mencuci pakaiannya, bahkan mungkin lupa bagaimana cara melakukannya.
Setelah didiagnosis, orang-orang yang merawat penderita selalu bertanya kepada dokternya, “Berapa lamakah waktu yang kita punya? Berapa bulan atau berapa tahun?” Selalu timbul keinginan untuk mengetahuinya.
Waktu antara mulai timbul gejala penyakit Alzheimer sampai kematian penderitanya sangatlah beragam. Mungkin beberapa tahun atau bahkan dua puluh tahun, tergantung pada sejumlah faktor lain yang berpengaruh pada kesehatannya. Secara umum dapat dikatakan, semakin muda seseorang menderita penyakit ini, semakin cepat is mengalami kerusakan dan kemunduran.
Anatomi dan fungsi serebelum
Serebelum adalah bagian terbesar dari otak belakang. Serebelum menempati fosa kranialis posterior dan diatapi tentorium-serebeli, yang merupakan lipatan dura mater yang memisahkannya dart lobus oksipitalis serebri.
Rongga ventrikel keempat memisahkan serebelum dari pons dan medula oblongata. Sebuah celah yang dalam memisahkan serebelum menjadi dua hemisfer, hemisfer kiri dan kanan; dan ke dalam celah itulah falks serebeli, yang merupakan sebuah lipatan dura mater lain, menyelipkan dirinya.
Susunan substansi kelabu dan putih pada serebelum sama seperti susunan yang terdapat pada cerebrum, yaitu dengan substansi kelabu berada di permukaan. Permukaan itu berbukit-bukit dan berlipat-lipat dalam belitan. Fisura antara tumpukan-tumpukan pada serebelum sangat rapat satu sama lain dibandingkan dengan sulkus pada korteks serebri.
Serebelum mempunyai hubungan dengan berbagai bagian lain sistem persarafan. Tetapi hubungannya yang terutama adalah dengan hemisfer serebri pada sisi yang lain dan dengan batang otak. Selain itu serebelum menerima serabut dari sumsum tulang belakang dan berhubungan dengan pusat-pusat refleks penglihatan pada atap otak tengah (diensefalon), dengan talamus, clan dengan serabut-serabut saraf pendengaran.
Fungsi serebelum adalah mengatur sikap dan aktivitas sikap badan. Serebelum berperanan penting dalam koordinasi otot dan menjaga keseimbangan. Bila serabut kortiko-spinal yang melintas dart korteks serebri ke sumsum tulang belakang mengalami penyilangan, dan dengan demikian mengendalikan gerakan sisi lain tubuh, hemisfer serebeli mengendalikan tonus otot dan sikap pada sisinya sendiri.
Cedera unilateral pada serebelum mengakibatkan gangguan pada sikap dan tonus otot. Gerakan sangat tidak terkoordinasi. Seorang pasien yang menderita gangguan tersebut mungkin tidak sanggup memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri, dan bahkan mengotori mukanya akibat makanan yang tercecer; terombang-ambing sewaktu berjalan, dan cenderung jatuh ke arah sisi badan yang mendapat cedera. Semua gerakan sadar dan otot-otot anggota badan menjadi lemah, dan cara bicara pun lambat.
Rongga ventrikel keempat memisahkan serebelum dari pons dan medula oblongata. Sebuah celah yang dalam memisahkan serebelum menjadi dua hemisfer, hemisfer kiri dan kanan; dan ke dalam celah itulah falks serebeli, yang merupakan sebuah lipatan dura mater lain, menyelipkan dirinya.
Susunan substansi kelabu dan putih pada serebelum sama seperti susunan yang terdapat pada cerebrum, yaitu dengan substansi kelabu berada di permukaan. Permukaan itu berbukit-bukit dan berlipat-lipat dalam belitan. Fisura antara tumpukan-tumpukan pada serebelum sangat rapat satu sama lain dibandingkan dengan sulkus pada korteks serebri.
Serebelum mempunyai hubungan dengan berbagai bagian lain sistem persarafan. Tetapi hubungannya yang terutama adalah dengan hemisfer serebri pada sisi yang lain dan dengan batang otak. Selain itu serebelum menerima serabut dari sumsum tulang belakang dan berhubungan dengan pusat-pusat refleks penglihatan pada atap otak tengah (diensefalon), dengan talamus, clan dengan serabut-serabut saraf pendengaran.
Fungsi serebelum adalah mengatur sikap dan aktivitas sikap badan. Serebelum berperanan penting dalam koordinasi otot dan menjaga keseimbangan. Bila serabut kortiko-spinal yang melintas dart korteks serebri ke sumsum tulang belakang mengalami penyilangan, dan dengan demikian mengendalikan gerakan sisi lain tubuh, hemisfer serebeli mengendalikan tonus otot dan sikap pada sisinya sendiri.
Cedera unilateral pada serebelum mengakibatkan gangguan pada sikap dan tonus otot. Gerakan sangat tidak terkoordinasi. Seorang pasien yang menderita gangguan tersebut mungkin tidak sanggup memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri, dan bahkan mengotori mukanya akibat makanan yang tercecer; terombang-ambing sewaktu berjalan, dan cenderung jatuh ke arah sisi badan yang mendapat cedera. Semua gerakan sadar dan otot-otot anggota badan menjadi lemah, dan cara bicara pun lambat.
Asuhan Keperawatan TBC
1. Pengkajian
a. Data pasien
Penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim.
Tuberkulosis pada anak dapat terjadi di usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Anak-anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru¬paru dengan perbandingan 3 : 1. Tuberkulosis luar paru-paru adalah TB berat yang terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian men ingkat setelah usia remaia di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).
b. Riwayat kesehatan
Keluhan yang sering muncul antara lain:
1) Demam: subfebris, febris (40-41° C) hilang timbul.
2) Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang
yang dimulai (tali batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum).
3) Sesak napas: bila sudah lanjut di mana infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.
4) Nyeri dada: jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga men imbu Ikan pleuritic.
5) Malaise: ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot, dan keringat inalam.
6) Sianosis, sesak napas, dan kolaps merupakan gejala atelektasis. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernapas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Pada foto toraks, pada sisi yang sakit tampak bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular.
c. Pemeriksaan fisik
. Pada tahap dini sulit diketahui.
. Ronchi basal), kasar, dan nyaring.
. Elipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik.
. Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal, dan fibrosis.
Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).
d. Pemeriksaan tambahan
1) Sputum culture: untuk memastikan apakah keberadaan M. tuberculosis pada stadium aktif.
2) Ziehl neelsen (Acid fastStaind applied to smear of body fluid): positif untuk BTA.
3) Skin test (PPD, mantoux, tine, and vollmer patch): reaksi positif (area indurasi 10 min atau lebih, timbal 48-72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi, tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif.
4) Chest X-ray: dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian atas paru-paru, deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pleura. Perubahan yang mengindikasikan TB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrosa.
5) Histologi atau kultur jaringan (termasuk kumbah lambung, urine dan CSF, serta biopsi kulit): positif untuk M. tuberculosis.
6) Needle biopsi of lung tissue: positif untuk granuloma TB, adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis.
7) Elektrolit: mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi; misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air, dapat ditemukan pada TB paru-paru kronis lanjut.
8) ABGs: mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat, dan sisa kerusakan paru-paru.
9) Bronkografi: merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat
kerusakan bronkhus atau kerusakan paru-paru karena TB.
10) Darah: lekositosis, LED meningkat.
11) Test fungsi paru-paru: VC menurun, dead space men ingkat, TIC men ingkat, dan men urunnya saturasi 0, yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenkim paru-paru dan penyakit pleura.
Penatalaksanaan
1) Penyuluhan
2) Pencegahan
3) Pemberian obat-obatan:
a) OAT (Obat Anti Tuberkulosis)
b) Bronkodilator
c) Ekspektoran
d) OBH (Obat Batuk Hitam) e) Vitamin
4) Fisioterapi dan rehabilitasi
5) Konsultasi secara teratur
a. Data pasien
Penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim.
Tuberkulosis pada anak dapat terjadi di usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Anak-anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru¬paru dengan perbandingan 3 : 1. Tuberkulosis luar paru-paru adalah TB berat yang terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian men ingkat setelah usia remaia di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).
b. Riwayat kesehatan
Keluhan yang sering muncul antara lain:
1) Demam: subfebris, febris (40-41° C) hilang timbul.
2) Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkhus. Batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang
yang dimulai (tali batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum).
3) Sesak napas: bila sudah lanjut di mana infiltrasi radang sampai setengah paru-paru.
4) Nyeri dada: jarang ditemukan, nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga men imbu Ikan pleuritic.
5) Malaise: ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot, dan keringat inalam.
6) Sianosis, sesak napas, dan kolaps merupakan gejala atelektasis. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernapas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Pada foto toraks, pada sisi yang sakit tampak bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular.
c. Pemeriksaan fisik
. Pada tahap dini sulit diketahui.
. Ronchi basal), kasar, dan nyaring.
. Elipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik.
. Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal, dan fibrosis.
Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak).
d. Pemeriksaan tambahan
1) Sputum culture: untuk memastikan apakah keberadaan M. tuberculosis pada stadium aktif.
2) Ziehl neelsen (Acid fastStaind applied to smear of body fluid): positif untuk BTA.
3) Skin test (PPD, mantoux, tine, and vollmer patch): reaksi positif (area indurasi 10 min atau lebih, timbal 48-72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi, tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif.
4) Chest X-ray: dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian atas paru-paru, deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pleura. Perubahan yang mengindikasikan TB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrosa.
5) Histologi atau kultur jaringan (termasuk kumbah lambung, urine dan CSF, serta biopsi kulit): positif untuk M. tuberculosis.
6) Needle biopsi of lung tissue: positif untuk granuloma TB, adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis.
7) Elektrolit: mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi; misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air, dapat ditemukan pada TB paru-paru kronis lanjut.
8) ABGs: mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat, dan sisa kerusakan paru-paru.
9) Bronkografi: merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat
kerusakan bronkhus atau kerusakan paru-paru karena TB.
10) Darah: lekositosis, LED meningkat.
11) Test fungsi paru-paru: VC menurun, dead space men ingkat, TIC men ingkat, dan men urunnya saturasi 0, yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenkim paru-paru dan penyakit pleura.
Penatalaksanaan
1) Penyuluhan
2) Pencegahan
3) Pemberian obat-obatan:
a) OAT (Obat Anti Tuberkulosis)
b) Bronkodilator
c) Ekspektoran
d) OBH (Obat Batuk Hitam) e) Vitamin
4) Fisioterapi dan rehabilitasi
5) Konsultasi secara teratur
Limfadenopati dan Splenomegali
LIMFADENOPATI
Limfadenopati atau hiperplasia limfoid adalah pembesaran kelenjar limfe sebagai respons terhadap proliferasi limfosit T atau limfosit B. Limfadenopati biasanya terjadi setelah infeksi suatu mikroorganisme.
Limfadenopati regional merupakan indikasi adanya infeksi lokal. Sedangkan limfadenopati generalisata biasanya merupakan indikasi adanya infeksi sistemik seperti AIDS, atau gangguan otoimun seperti artritis rematoid atau lupus eritematosus sistemik. Biasanya, limfadenopati dapat mengindikasikan adanya keganasan.
SPLENOMEGALI
Splenomegali adalah pembesaran limpa. Keadaan ini biasanya terjadi akibat proliferasi limfosit dalam limpa karena infeksi di tempat lain di tubuh. Splenomegali akibat proliferasi makrofag terjadi jika terdapat sel-sel mati (terutama sel darah merah) dalam jumlah yang berlebihan dan perlu dibersihkan dari sirkulasi.
Splenomegali juga dapat terjadi akibat penimbunan darah dalam limpa. Hal ini biasanya merupakan komplikasi hipertensi portal. Tumor atau kista limpa juga dapat menyebabkan splenomegali. Splenomegali sebagai respons terhadap infeksi biasanya disertai oleh limfadenopati; penyebab lain splenomegali tidak disertai limfadenopati.
Limfadenopati atau hiperplasia limfoid adalah pembesaran kelenjar limfe sebagai respons terhadap proliferasi limfosit T atau limfosit B. Limfadenopati biasanya terjadi setelah infeksi suatu mikroorganisme.
Limfadenopati regional merupakan indikasi adanya infeksi lokal. Sedangkan limfadenopati generalisata biasanya merupakan indikasi adanya infeksi sistemik seperti AIDS, atau gangguan otoimun seperti artritis rematoid atau lupus eritematosus sistemik. Biasanya, limfadenopati dapat mengindikasikan adanya keganasan.
SPLENOMEGALI
Splenomegali adalah pembesaran limpa. Keadaan ini biasanya terjadi akibat proliferasi limfosit dalam limpa karena infeksi di tempat lain di tubuh. Splenomegali akibat proliferasi makrofag terjadi jika terdapat sel-sel mati (terutama sel darah merah) dalam jumlah yang berlebihan dan perlu dibersihkan dari sirkulasi.
Splenomegali juga dapat terjadi akibat penimbunan darah dalam limpa. Hal ini biasanya merupakan komplikasi hipertensi portal. Tumor atau kista limpa juga dapat menyebabkan splenomegali. Splenomegali sebagai respons terhadap infeksi biasanya disertai oleh limfadenopati; penyebab lain splenomegali tidak disertai limfadenopati.
Langganan:
Postingan (Atom)