Kamis, 28 Juli 2011
Mc Kenzie Pada Nyeri TengkukMc Kenzie Pada Nyeri Tengkuk
Penatalaksanaan Terapi Latihan
Metode McKenzie pada Nyeri Tengkuk
Suharto, RPT.
Akademi Fisioterapi, Departemen Kesehatan, Makassar
PENDAHULUAN
Tengkuk merupakan bagian tubuh yang paling rumit dan
unik karena terdiri dari beberapa sendi yang kompleks dilalui
oleh saraf dan pembuluh darah, otot-otot, tendo dan ligamen-
nya yang memungkinkan tengkuk bergerak secara kompleks.
Di samping itu tengkuk juga daerah yang paling banyak
mendapat ketegangan atau stres, baik waktu istirahat apalagi
jika sedang bekerja serius, misalnya sewaktu duduk di kantor
sepanjang hari dengan posisi duduk atau kursinya kurang
nyaman; hal ini akan mempercepat terjadinya nyeri tengkuk.
Apabila struktur tulang, otot dan saraf mengalami
gangguan di daerah ini, akan menyebabkan nyeri tengkuk yang
gejalanya nyeri sekali, tidak bisa menoleh ke kiri, ke kanan dan
menundukkan ataupun mendongak, sehingga mengganggu
aktifitas sehari-hari penderita.
Salah satu cara untuk mengatasi nyeri tengkuk ini adalah
pemberian fisioterapi dengan menggunakan terapi latihan
metode Mc. Kenzie.
NYERI TENGKUK
Apabila seseorang bekerja serius dalam waktu lama, maka
akan terjadi kontraksi otot terus menerus dan berlebihan yang
menghasilkan metabolit yang menimbulkan rasa nyeri.
Katabolit ini agaknya merupakan suatu molekul besar yang
berdifusi perlahan ke luar dari serat otot. Penelitian pada
penderita nyeri tengkuk menunjukkan bahwa tegangnya otot
disertai pula menegangnya otot-otot tunika muskularis arteri
yang mengurus otot itu. Vasokonstriksi ini menyebabkan
bertambah lamanya dari intensitas nyeri.
(1)
Gejala nyeri tengkuk dapat dikelompokkan dalam tiga
bagian yaitu :
1) Nyeri tengkuk lokal
Nyeri yang berasal dari otot-otot tengkuk, oleh kontraksi
yang akut maupun kronis. Terjadi secara tidak disadari sebagai
reaksi otot terhadap kecemasan.(Zigler)
(4)
Kontraksi otot yang terus menerus ini akan mengakibatkan
kenaikan tekanan intramuskular yang menyebabkan rusaknya
kapiler-kapiler di dalamnya, sehingga terjadi iskemi di dalam
otot yang dapat menimbulkan nyeri.
Otot tengkuk terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok
otot yang menggerakkan kepala dan yang menggerakkan tulang
leher. Kelompok otot yang sering mengalami tegang otot ada-
lah kelompok ekstensor kepala dan ekstensor leher seperti otot
rectus capitis minor dan mayor, otot obliqus capitis superior
dan inferior, otot longus capitis, otot semispinalis capitis, otot
splenius cervisis, otot splenius capitis, otot trapezius serta m.
scalenius medius.
2) Spondilosis servikalis dan kelainan diskus
Spondilosis hanya sebagai faktor predisposisi saja dalam
menimbulkan rasa nyeri. Memang spondilosis tersebut me-
nekan akar saraf tetapi harus diingat bahwa akar saraf tersebut
juga akan teregang pada gerakan kepala terutama pergerakan
fleksi tanpa menimbulkan rasa nyeri.
(2)
Gejala dari akar saraf spinalis terutama disebabkan
gangguan di dalam foramen intervertebralis; misalnya proses
inflamasi, hernia diskus atau spondilosis yang dapat menyebab-
kan terjadinya edema sehingga gejala penekanan akar sarafpun
timbul.
Untuk menimbulkan nyeri radikular ada beberapa faktor
yang menguatkan, yaitu : rangsang/iritasi serabut saraf; jika
rangsangan itu berupa tekanan, harus intermitten dan akut, serta
adanya gangguan fungsi seperti gangguan fungsi sensoris dan
motoris.
3) Migraine servikalis
Ciri khas migraine servikalis yaitu rasa nyeri di tengkuk
menjalar ke daerah occipitalis yang sepihak dan terus ke wajah
ke daerah frontalis. Rasa nyeri kepala ini disebabkan oleh ter-
jadinya penekanan pada pleksus simpatikus di sekitar a.
vertebralis yang terjadi karena osteofit dan trauma sebagai
faktor-faktor pencetus.
PEMERIKSAAN FISIOTERAPI
a. Anamnesis umum : Data pribadi penderita.
b. Anamnesis khusus
- Keluhan utama penderita : nyeri tengkuk
- Sifat keluhan utama
- Lamanya keluhan
- Apakah nyerinya menjalar atau terlokalisir
- Faktor yang memperberat dan memperingan keluhan.
c. Inspeksi : Diperhatikan posisi kepala dan leher pada ke-
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
62
adaan statis dan dinamis.
d. Tes orientasi : Untuk melihat kemampuan gerakan kepala
dan leher.
e. Pemeriksaan fungsi : Gerakan aktif, pasif, tes isometrik
melawan tahanan untuk sendi leher dan kepala.
f. Pemeriksaan khusus
- Palpasi otot leher dan kepala
- Pemeriksaan motorik : kekuatan otot
- Pemeriksaan sensorik
- Tes Kompresi dan distraksi leher.
PENGOBATAN FISIOTERAPI
Bertujuan mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan
mengembalikan jarak gerakan sendi leher ke normal agar
penderita dapat beraktivitas kembali tanpa gangguan.
Metode pengobatan yang diberikan adalah Mc. Kenzie.
Latihan ini diberikan pada kondisi nyeri tengkuk lokal tanpa
disertai gangguan neurologis lain seperti gangguan saraf atau
adanya jepitan pada akar saraf servikal. Bila tujuan yang ingin
dicapai adalah berkurangnya rasa nyeri, maka latihan yang
dilakukan sampai timbul rasa nyeri dan berhenti, kemudian
kembali ke posisi awal; sedangkan pada keterbatasan ROM,
gerak leher sampai keterbatasannya kemudian ditambah sedikit
gerakan pasif secara perlahan dan hati-hati.
Pelaksanaan Metode Mc. Kenzie
1) Latihan 1: Retraksi Kepala
Posisi : Penderita duduk di atas kursi stool.
Latihan : Retraksi kepala artinya menarik kepala ke bela-
kang. Jadi dalam posisi duduk, pandangan mata lurus ke depan
tarik kepala ke belakang tanpa ada fleksi dan ekstensi kepala.
Lakukan latihan ini sampai 10 kali tiap latihan. Waktu retraksi
ditahan 5 hitungan atau 5 detik.
Latihan pertama ini merupakan dasar latihan beriku
Selasa, 26 Juli 2011
Latihan Untuk Penderita Vertigo Latihan Untuk Penderita Vertigo
Di sini saya membicarakan latihan terapi gangguan keseimbangan/vertigo akibat perubahan posisi kepala ( istilah medis : BPPV - Benign Paroxysmal Positional Vertigo ).
Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver dan Brand-Darroff exercise (saya belum menemukan istilahnya dalam bahasa Indonesia). Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.
Dari beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT atau Semont Liberatory, jika masih terasa ada sisa baru dilakukan Brand-Darroff exercise.
Latihan CRT / Epley manouver :
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan keseimbangan / vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang, kemudian putar kepala ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masing-masing gerakan ditunggu lebih kurang 30 - 60 detik. Dapat dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang kali sampai terasa vertigo hilang.
Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai 360', mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul vertigo, berhenti dulu tapi jangan balik lagi, sampai hilang, setelah hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.
Latihan Semont Liberatory :
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2) dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.
Latihan Brand-Darroff exercise:
Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.
Mungkin ada yang bertanya, apasih gunanya gerakan kepala dan badan itu, mungkin kalau saya terangkan akan membuat kepala jadi mumet /vertigo, tapi itu adalah gerakan yang telah dilakukan penelitian dan telah berhasil.
Sebaiknya juga harus diperiksakan terlebih dahulu untuk memastikan penyebab vertigo / gangguan keseimbangannya.
Latihan Untuk Penderita Vertigo Latihan Untuk Penderita Vertigo
Di sini saya membicarakan latihan terapi gangguan keseimbangan/vertigo akibat perubahan posisi kepala ( istilah medis : BPPV - Benign Paroxysmal Positional Vertigo ).
Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver dan Brand-Darroff exercise (saya belum menemukan istilahnya dalam bahasa Indonesia). Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.
Dari beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT atau Semont Liberatory, jika masih terasa ada sisa baru dilakukan Brand-Darroff exercise.
Latihan CRT / Epley manouver :
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan keseimbangan / vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang, kemudian putar kepala ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masing-masing gerakan ditunggu lebih kurang 30 - 60 detik. Dapat dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang kali sampai terasa vertigo hilang.
Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai 360', mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul vertigo, berhenti dulu tapi jangan balik lagi, sampai hilang, setelah hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.
Latihan Semont Liberatory :
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2) dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.
Latihan Brand-Darroff exercise:
Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.
Mungkin ada yang bertanya, apasih gunanya gerakan kepala dan badan itu, mungkin kalau saya terangkan akan membuat kepala jadi mumet /vertigo, tapi itu adalah gerakan yang telah dilakukan penelitian dan telah berhasil.
Sebaiknya juga harus diperiksakan terlebih dahulu untuk memastikan penyebab vertigo / gangguan keseimbangannya.
Gastroenteritis Akut
Etiologi biasanya adalah virus walaupun infeksi bakteri dan protozoa dapat juga terjadi. Infeksi virus antara lain disebabkan oleh virus Norwalk, rotavirus (muncul pada saat muslin dingin), enterovirus (muncul pada saat musim panas), koronavirus, dan adenovirus. Infeksi bakteri ditandai dengan adanya hematokezia atau adanya mukus di dalam tinja dan disebabkan infeksi oleh Salmonella, Shigella, Campy/Owlet; Yersinia. Escherichia coli patogen, dan spesies Clostridium difficile dapat menyebabkan kolitis pseudomembranosa yang menimbulkan nyeri abdomen dan diare. terutama setelah pernakaian antibiotik. Giardia lamblia dan Coptosporidium adalah parasit yang menyebabkan wabah di tempat perawatan. Giardia juga ditemukan di air sumur yang tercemar.
Jika tinja positif heme atau mengandung mukus maka sebaiknya dieurigai penyebabnya adalah bakteri dan dilakukan pemeriksaan biakan bakteri. Bila pasien dicurigai menderita kolitis C. difficile, sebaiknya tinja dianalisis untuk menemukan toksin C. Akhirnya, jika diduga ada infeksi protozoa, sebaiknya paling sedikit diambil tiga kali pemeriksaan tinja terhadap telur cacing dan parasit, dengan sampel yang diambil setiap dua hari sekali.
Gastroenteritis virus biasanya merupakan penyakit yang sembuh spontan, berlangsung 2-5 hari, dan tidak memerlukan perawatan rumah sakit kecuali terjadi dehidrasi yang signifikan. Anak sering menunjukkan gejala kram perut muntah, dan buang air besar cair 6-10 kali sehari. Walaupun dapat ditemukan darah di tinja pada gastroenteritis virus, tempi lebih mungkin merupakan enteritis bakterial. Hematemesis (mengandung darah) dapat terjadi jika muntah berlangsung hebat. Pada pemeriksaan, abdomen biasanya tidak mengalami peregangan dan lunak, dengan nyeri yang difus. Bising usus biasanya hiperaktif.
Pemeriksaan laboratorium di rekomendasikan hanya untuk anak yang memiliki tanda dehidrasi sedang sampai berat. Hasil pemeriksaan elektrolit dapat menunjukkan hiponatremia atau hipernatremia dan asidosis yang signifikan, terutama jika diare berkepanjangan. Hitung darah lengkap dapat memperlihatkan hemokonsentrasi yang juga memperkuat keadaan dehidrasi. Jika pasien dirawat selama musim dingin dan dicurigai akibat rotavirus maka uji diagnostik cepat untuk mengetahui adanya virus ini penting dilakukan untuk mengontrol infeksi.
Pengobatan
Terapi rehidrasi oral merupakan pengobatan utama pada sebagian besar anak dengan gastroenteritis akut dan sebaiknya terdiri atas larutan elektrolit/glukosa seimbang seperti Pedialyte atau Ricelyte dengan pemberian kembali makanan padat secara dini. Bayi yang menyusui sebaiknya didorong untuk melanjutkan menyusui kecuali jika asupan makanan kurang. Pada bayi yang diberi susu formula disarankan untuk meningkatkan pemberian secara bertahap dari larutan rehidrasi oral ke susu formula encer dan akhirnya susu formula normal, walaupun masih terdapat perdebatan mengenai perlu tidaknya tindakan ini. Penggunaan “cairan jernih” secara kebetulan masih dipertanyakan karena banyak cairan pada kategori ini tidak fisiologis dan mengandung gula dalam jumlah berlebihan serta kandungan elektrolitnya kurang atau berlebihan. Pasien yang mengalami dehidrasi sedang sampai berat memerlukan terapi cairan intravena mula-mula dengan 20 ml/kg larutan salin normal, kemudian sering dilakukan penilaian ulang. Pemberian berbagai obat antiemetik dan antidiare tidak memperlihatkan manfaat yang jelas dan mengandung risiko. Oleh karena itu, obat yang mengontrol gejala muntah dan diare sebaiknya di hindari.
Edema Serebri
Edema serebri atau edema otak adalah keadaan patologis terjadinya akumulasi cairan di dalam jaringan otak sehingga meningkatkan volume otak. Dapat terjadi peningkatan volume intraseluler (lebih banyak di daerah substansia grisea) maupuri ekstraseluler (daerah substansia alba), yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial.
ETIOLOGI
Edema otak dapat muncul pada kondisi neurologis dan nonneurologis:
1. Kondisi neurologis: Stroke iskemik dan perdarahan intraserebral, trauma kepala, tumor otak, dan infeksi otak.
2. Kondisi non neurologis: Ketoasidosis diabetikum, koma asidosis laktat, hipertensi maligna, ensefalopati, hiponatremia, ketergantungan pada opioid, gigitan reptil tertentu, atau high altitude cerebral edema (HACE).
KLASIFIKASI
Edema otak dapat terjadi intraseluler, ekstraseluler (interstisial), atau kombinasi keduanya. Edema sel otak (edema sitotoksik) dapat terjadi akibat hiperosmolaritas intraseluler atau akibat hipotonisitas ekstraseluler. Edema ekstraseluler (interstisial) terjadi akibat adanya timbunan cairan di ruang ekstraseluler parenkim otak, yang dapat berupa edema hidrostatik, vasogenik, osmotik, dan ekstraseluler akibat hidrosefalus. Berbagai bentuk edema tidak selalu muncul sendiri-sendiri melainkan lebih sering muncul bersamaan.
DIAGNOSIS
Pada kondisi terjadi peningkatan tekanan intrakranial dapat ditemukan tanda dan gejala berupa:
1. Nyeri kepala hebat.
2. Muntah; dapat proyektil maupun tidak.
3. Penglihatan kabur.
4. Bradikardi dan hipertensi; terjadi akibat iskemi dan terganggunya pusat vasomotor medular. Hal ini merupakan mekanisme untuk mempertahankan aliran darah otak tetap konstan pada keadaan meningkatnya resistensi serebrovaskular akibat kompresi pembuluh darah kapiler serebral oleh edema.
5. Penurunan frekuensi dan dalamnya pemapasan; respirasi menjadi lambat dan dangkal secara progresif akibat peningkatan tekanan intrakranial (TIK) yang menyebabkan herniasi unkal. Saat terjadi kompresi batang otak, timbul perubahan pola pernapasan menjadi pola Cheyne-Stokes, kemudian timbul hiperventilasi, diikuti dengan respirasi yang ireguler, apnea, dan kematian.
6. Gambaran papiledema pada funduskopi; ditandai dengan batas papil yang tidak tegas, serta cup and disc ratio lebih dari 0,2.
Dapat dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI otak untuk melihat etiologi dan luas edema serebri.
PENATALAKSANAAN
1. Posisi Kepala dan Leher. Posisi kepala harus netral dan kompresi vena jugularis harus dihindari. Fiksasi endotracheal tube (ETT) dilakukan dengan menggunakan perekat yang kuat dan jika posisi kepala perlu diubah harus dilakukan dengan hati-hati dan dalam waktu sesingkat mungkin.
Untuk mengurangi edema otak dapat dilakukan elevasi kepala 30°.
2. Analgesik, Sedasi, dan Zat Paralitik. Nyeri, kecemasan, dan agitasi meningkatkan kebutuhan metabolisme otak, aliran darah otak, dan tekanan intrakranial. Oleh karena itu, analgesik dan sedasi yang tepat diperlukan untuk pasien edema otak. Pasien yang menggunakan ventilator atau ETT harus diberi sedasi supaya tidak memperberat TIK. Obat sedasi yang sering digunakan untuk pasien neurologi diantaranya adalah opiat, benzodiazepin, dan propofol.
3. Ventilasi dan Oksigenasi. Keadaan hipoksia dan hiperkapnia harus dihindari karena merupakan vasodilator serebral poten yang menyebabkan penambahan volume darah otak sehingga terjadi peningkatan TIK, terutama pada pasienm dengan pernicabilitas kapilcr yang abnormal. Intubasi dan ventilasi mekanik diindikasikan jika ventilasi atau oksigenasi pada pasien edema otak buruk.
4. Penatalaksanaan Cairan. Osmolalitas serum yang rendah dapat menyebabkan edema sitotoksik sehingga harus dihindari. Keadaan ini dapat dicegah dengan pembatasan ketat pemberian cairan hipotonik (balans —200 ml).
5. Penatalaksanaan Tekanan Darah. Tekanan darah yang ideal dipengaruhi oleh penyebab edema otak. Pada pasien stroke dan trauma, tekanan darah harus dipelihara dengan cara menghindari kenaikan tekanan darah tiba-tiba dan hipertensi yang sangat tinggi untuk menjaga perfusi tetap adekuat. Tekanan perfusi serebral harus tetap terjaga di atas 60-70 mmHg pascatrauma otak.
6. Pencegahan Kejang, Demam, dan Hiperglikemi. Kejang, de-mam, dan hiperglikemi merupakan faktor-faktor yang dapat memperberat sehingga harus dicegah atau diterapi dengan baik bila sudah terjadi. Penggunaan antikonvulsan profilaktik seringkali diterapkan dalam praktek klinis. Suhu tubuh dan kadar glukosa darah kapiler harus tetap diukur.
Terapi Osmotik
Terapi osmotik menggunakan manitol dan salin hipertonik.
• Manitol
• Efek Ostnotik
• Efek Hemodinamik
• Efek Oxygen Free Radical Scavenging
Dosis awal manitol 20% 1-1,5 g/kgBB IV bolus, diikuti dengan 0,25-0,5 g/kgBB IV bolus tiap 4-6 jam. Efek mak-simum terjadi setelah 20 menit pemberian dan durasi kerjanya 4 jam.
Pernberian manitol ini harus disertai pemantauan kadar osmolalitas serum. Osmolalitas darah yang terlalu tinggi akan meningkatkan risiko gagal ginjal (terutama pada pasien yang sebelumnya sudah mengalami vollyrfg depletion). Kadar osmolalitas serum tidak boleh lebih dan 320 mOsmol/L.
Salin Hipertonik
Cairan salin hipertonik (NaC1 3%) juga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti manitol dalam terapi edema otak. Mekanisme kerjanya kurang lebih sama dengan manitol, yaitu dehidrasi osmotik.
Steroid
Glukokortikoid efektif untuk mengatasi edema vasogenik yang menyertai tumor, peradangan, dan kelainan lain yang berhubungan dengan peningkatan permeabilitas sawar darah-otak, termasuk akibat manipulasi pembedahan. Namun, steroid tidak berguna untuk mengatasi edema sitotoksik dan berakibat buruk pada pasien iskemi otak.
Deksametason paling disukai karena aktivitas mineralokorti-koidnya yang sangat rendah. Dosis awal adalah 10 mg IV atau per oral, dilanjutkan dengan 4 mg setiap 6 jam. Dosis ini ekuivalen dengan 20 kali lipat produksi kortisol normal yang fisiologis. Responsnya seringkali muncul dengan cepat namun pada beberapa jenis tumor hasilnya kurang responsif. Dosis yang lebih tinggi, hingga 90 mg/hari, dapat diberikan pada kasus yang refrakter. Setelah penggunaan selama berapa hari, dosis steroid harus diturunkan secara bertahap (tape* off) untuk menghindari komplikasi serius yang mungkin timbul, yaitu edema rekuren dan supresi kelenjar adrenal.
Deksametason kini direkomendasikan untuk anak > 2 bulan penderita meningitis bakterialis. Dosis yang dianjurkan adalah 0,15 mg/kg IV setiap 6 jam pada 4 hari pertama pengobatan disertai dengan terapi antibiotik. Dosis pertama harus diberikan sebelum atau bersamaan dengan terapi antibiotik (lihat bab meningitis bakterialis).
Hiperventilasi
Sasaran pCO, yang diharapkan adalah 30-35 mmHg agar menimbulkan vasokonstriksi serebral sehingga menurunkan volume darah serebral.
Barbiturat
Barbiturat dapat menurunkan tekanan intrakranial secara efektif pada pasien cedera kepala berat dengan hemodinamik yang stabil. Terapi ini biasanya digunakan pada kasus yang refrakter terhadap pengobatan lain maupun penanganan TIK dengan pembedahan.
Furosemid
Terkadang dikombinasikan dengan manitol. Terapi kombinasi ini telah terbukti berhasil pada beberapa penelitian. Furosemid dapat meningkatkan efek manitol, namun harus diberikan dalam dosis tinggi, sehingga risiko terjadinya kontraksi volume melampaui manfaat yang diharapkan. Peranan asetasolamid, penghambat karbonik anhidrase yang mengurangi produksi CSS, terbatas pada pasien high-altitude illness dan hipertensi intrakranial benigna.
Induksi hipotermi telah digunakan sebagai intervensi neuroproteksi pada pasien. dengan lesi serebral akut.
20 Asam Amino dan Sifat-sifat Asam Amino
Protein tersusun atas asam-asam amino yang terhubung membentuk sekuens linear melalui ikatan peptida antara gugus amino dari salah satu asam amino dengan gugus karboksil dari asam amino sebelumnya. Semua asam amino yang ditemukan di dalam protein merupakan asam amino α dalam hal ini, gugus amino dan gugus karboksil keduanya terikat pada atom karbon α yang sama.
Kedua puluh macam asam amino yang digunakan dalam sintesis protein dilambangkan dengan menggunakan singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau satu huruf seperti yang tercantum dalam Tabel di bawah. Lambang ini berguna untuk mengelompokkan asam amino berdasarkan sifat-sifat gugus fungsinya.
Sifat | Asam Amino | Singkatan | |
Nonpolar, Alifatik | Glisin | Gly | G |
Alanin | Ala | A | |
Valin | Val | V | |
Leusin | Leu | L | |
Isoleusin | Ile | I | |
Polar, Alifatik | Serin | Ser | S |
Treonin | Thr | T | |
Asparagin | Asn | N | |
Glutamin | Gln | Q | |
Aromatik | Fenilalanin | Phe | F |
Tirosin | Tyr | Y | |
Triptofan | Trp | W | |
Mengandung sulfur | Sistein | Cys | C |
Metionin | Met | M | |
Dengan Gugus | Prolin | Pro | P |
Asam Amino Asam | Aspartat | Asp | D |
Glutamat | Glu | E | |
Asam Amino Basa | Lisin | Lys | K |
Arginin | Arg | R | |
Histidin | His | H | |
Sifat-Sifat Asam Amino
Pada umumnya, asam-asam amino dapat larut dalam pelarut-pelarut polar, tetapi tidak dapat larut dalam pelarut-pelarut nonpolar. Walaupun kelarutannya tidak sama, sebagian besar asam amino dapat larut dalam larutan alkali sehingga membentuk garam.
Di antara sekian banyak asam amino yang menyusun protein, beberapa mempunyai rasa manis, rasa pahit, dan ada yang tidak mempunyai rasa. Glisin, prolin, alanin, hidroksiprolin, valin, dan serin mempunyai rasa manis. Isoleusin dan arginin mempunyai rasa pahit, sedangkan leusin tidak mempunyai rasa.
Asam amino mempunyai titik lebur yang tinggi. Pada umumnya, titik lebur asam amino di a las 200C. Titik lebur yang tinggi ini menggambarkan besarnya energi yang diperlukan untuk merusak kekuatan ionik yang mempertahankan kisi-kisi kristal. Sebagian besar asam amino mengalami sedikit peruraian apabila dipanaskan mendekati titik lebur atau titik lelehnya.
Kecuali glisin, semua asam amino mempunyai sebuah atau lebih atom karbon asimetris. Oleh karena itu, semua larutan asam amino, kecuali glisin, dapat menunjukkan kegiatan optis.
Struktur kimia asam amino mengandung gugus karboksil dan gugus amino sehingga sifat kimia asam amino ditentukan oleh sifat gugus karboksil, sifat gugus amino, dan gabungan antara sifat kedua radikal tersebut. Sifat-sifat kimia asam amino dapat dilihat dari reaksi-reaksi kimia asam amino.