Tampilkan postingan dengan label Autisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Autisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Autisme

APA ITU AUTISME?
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
http://www.autis.info/index.php/tentang-autisme/apa-itu-autisme

Rabu, 26 Januari 2011

Klasifikasi Okupasi

Okupasi adalah kagiatan, aktifitas atau pekerjaan. Aktivitas okupasi adalah kegiatan fungsional, setiap kegiatan yang melibatkan sumber daya yang terbentuk oleh skill I keterampilan yang dimiliki seseorang.
Skill I keterampilan adalah suatu perilaku yang dipelajari, yang dilakukan guna menyelesaikan suatu/sebagian dari suatu kegiatan okupasional (fungsional). Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk memfungsikan skill dalam tingkat yang sesuai dengan kebutuhan dalam mencapai kesehatan fisik, psikis maupun sosial. Dengan demikian OT adalah mencakup segala tindakan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan okupasi dari individu serta sumber daya yang dimilikinya.
Klasifikasi okupasi dapat dibagi menjadi 3 yang pokok. Yang ketiganya hanya dapat terlaksana oleh karena adanya 5 komponen skill (keterampilan) yaitu skill motorik, sensorik, kognitif, skill intra personal (psikologis), dan skill interpersonal (sosial).
Klasifikasi okupasi :
1. Kegiatan pameliharaan diri
Yaitu suatu tindakan yang dikerjakan individu secara rutin, untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan dalam lingkungannya, misalnya minum, makan berpakaian, mandi dan lain-lain.
2. Kegiatan produktif
Yaitu suatu kegiatan/tugas yang dikerjakan yang memungkinkan seseorang dapat menghidupi dirinya, keluarganya dan orang lain dengan cara menghasilkan barang atau jasa untuk menunjang kesehatan maupun kesejahteraan, misalnya bertani, pertukangan, buruh, sekretaris, pekerjaan rumah tangga dan lain-lain.
3. Kegiatan mengisi waktu luang
Adalah suatu kegiatan yang di kerjakan untuk tujuan mendapatkan kesenangan, kepuasan atau pembauran selingan, di mana kegiatan tersebut dapat membantu individu mencapai kesehatan maupun kesejahteraannya, misalnya bermain, mengembangkan kesenangan (hobby), berolahraga (bukan professional)dan lain-lain.
Individu dalam melaksanakan kegiatan seperti tersebut di tas dengan baik harus mempunyai kemampuan (potensi) fungsional yang cukup pula sesuai dengan kebutuhan, tergantung dengan apa kegiatan tersebut dan seberapa tingkat kegiatan tersebut harus di laksanakannya.

Occupational Therapy dan Tujuannya


OT adalah suatu tindakan terapi dengan atau melalui suatu aktivitas tertentu, dimana didalam aktivitas tersebut penderita dilibatkan untuk didiagnosa, dievaluasi dan diberi terapi pada masalah yang mengganggu peran fungsionalnya. Gangguan tersebut dapat diakibatkan antara lain karena sakit atau cidera, kelainan emosional, keacacatan sejak lahir ataupun cacat yang diperoleh pada masa pertumbuhan, maupun oleh sebab usia lanjut. OT bertujuan membantu penderita untuk mencapai daya guna mereka secara optimal, pencegahan serta pemeliharaan kesehatan penderita.
Pelayanan OT secara khusus termasuk (tetapi tidak terbatas pada) kegiatan sehari-hari (AKS), splinting, aktivitas sensomotorik, kegiatan-kegiatan khusus yang direncanakan, penyuluhan, pemilihan dan pemakaian alat-alat bantu, latihan-latihan atau exercise untuk meningkatkan daya guna, evaluasi dan latihan pre vocational, serta konsultasi yang berkaitan dengan penyesuaian fisik bagi penderita cacat. Pelayanan OT dapat diberikan secara individual atau kelompok melalui sistem medis, pendidikan dan sosial.
Tujuan OT
Secara singkat tujuan OT adalah sbb:
a. Membantu memungkinkan penderita mencapai fungsi dan daya guna secara optimal dalam kegiatan pemeliharaan diri, kegiatan produktif (kerja) serta kegiatan diwaktu senggang.
b. Mencegah adanya ketimpangan atau hambatan pekerjaan apabila memungkinkan
c. Mendorong dan memotivasi pemeliharaan daya guna okupasional.
Adapun tujuan tersebut diatas dapat diterapkan kepada setiap individu, akan tetapi sebagian besar yang membutuhkan pelayanan OT dapat dikelompokkan sbb:
1. Penderita dengan kelainan fisik, sakit maupun cidera
2. Penderita dengan kelainan emosional
3. Penderita dengan kecacatan sejak lahir maupun developmental
4. Penderita dengan kelainan karena proses usia lanjut
Pelayanan OT seperti tersebut diatas adalah merupakan bagian dari proses penyelesaian masalah yang ada pada sistem pelayanan OT.

Selasa, 09 November 2010

Autis Bisa Disembuhkan

Terapi Perilaku Anak Autis
Kamis, 8 April 2010 | 15:02 WIB

Oleh TATI NURHAYATI

Istilah autis mulai diperkenalkan oleh Leo Kanner pada 1943. Autis berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Artinya, penyandang autisme asyik dan seakan-akan berada dalam dunianya sendiri. Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang ditandai dengan keterlambatan perkembangan kognitif, konsentrasi, perilaku, bahasa, motorik, sosial, dan emosi.

Anak autis akan sulit melakukan kontak mata dengan orang lain. Mereka lebih tertarik pada benda daripada manusia. Maka, tidak mengherankan melihat anak autis asyik dengan mainannya daripada ikut bermain dengan teman atau keluarganya. Beberapa anak autis mempunyai perilaku mengoceh, ekolali (membeo atau meniru ucapan orang lain), melakukan gerakan motorik yang berulang-ulang (misalnya mengepak-ngepakkan tangan), menyakiti diri sendiri, atau bahkan menyakiti orang lain. Sebagian juga mempunyai minat dan kegiatan yang monoton dan hiperaktif (tidak bisa duduk dengan tenang).

Sampai sekarang penyebab autisme belum pasti. Namun, beberapa teori mengatakan, penyebabnya mulai dari faktor genetika (keturunan), infeksi jamur, sampai virus. Kekurangan nutrisi dan oksigen, polusi udara, air, dan makanan pada saat kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak bayi yang selanjutnya memungkinkan terjadinya autisme.

Banyak orangtua yang mempunyai anak autis bertanya-tanya, "Akan sembuhkah anakku?". Secara anatomis anak autis mengalami kelainan pada otak sehingga mengganggu proses perkembangan anak. Kelainan anatomis pada anak autis ini menurut ilmu kedokteran tidak dapat disembuhkan. Namun, autisme bukan harga mati untuk para orangtua yang memiliki anak autis. Sebab, seperti halnya anak normal, anak autis juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tentu saja proses pengembangannya tidak semudah atau secepat anak normal.

Dengan beberapa terapi, anak autis memungkinkan berkembang ke arah yang lebih baik. Perilaku anak autis yang oleh kebanyakan orang anggap aneh pun bisa dikurangi dan ditangani. Salah satu terapinya adalah terapi perilaku (behavior therapy).

Metode ABA

Terapi perilaku adalah terapi yang dilaksanakan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan perilaku anak yang terhambat dan mengurangi perilaku yang tidak wajar, kemudian menggantikannya dengan perilaku yang bisa diterima masyarakat.

Terapi perilaku ini merupakan dasar bagi anak-anak autis yang belum patuh (belum bisa kontak mata dan duduk mandiri) karena program dasar terapi perilaku adalah melatih kepatuhan. Kepatuhan ini sangat dibutuhkan saat anak-anak akan mengikuti terapi lain, seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan fisioterapi. Sebab, tanpa kepatuhan ini, terapi yang diikuti tidak akan pernah berhasil. Meski demikian, ternyata masih banyak tempat terapi anak autis atau anak berkebutuhan khusus lain yang tidak menyediakan terapi perilaku sehingga hasilnya tidak efektif.

Salah satu metode terapi perilaku adalah metode applied behavior analysis (ABA). Metode ini dipilih karena memiliki ciri terstruktur, terarah, dan terukur sehingga memudahkan terapis atau orangtua memantau perkembangan anak. Metode ABA ini ditemukan oleh seorang psikolog Amerika, O Ivar Lovaas Phd, sehingga metode ini juga sering disebut dengan metode Lovaas.

Tujuan metode ini adalah mengubah perilaku. Perilaku yang ditargetkan untuk berubah selalu dipilih dan dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Norma atau perilaku ini disesuaikan dengan norma yang ada dan berlaku di masyarakat.

Teknik pelaksanaan ABA menggunakan pendekatan yang bersifat individual. Satu anak ditangani satu terapis, bahkan jika diperlukan didampingi juga oleh tenaga prompting yang membantu anak untuk mengarahkan perilaku yang diinstruksikan terapis. Dalam pengajarannya, ABA mengambil prinsip operant conditioning dan respondent conditioning. Perilaku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan bisa dikontrol atau dibentuk dengan sistem hadiah dan hukuman.

Jika perilaku yang diinginkan muncul, anak akan diberi hadiah. Apabila yang muncul adalah perilaku yang tidak diinginkan, anak akan mendapatkan hukuman. Pemberian hadiah dan hukuman ini akan berpengaruh pada frekuensi munculnya perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan.

Adapun program yang diberikan adalah kepatuhan (kontak mata dan dapat duduk saat belajar), bahasa reseptif, bahasa ekspresif, preakademik, dan bantu diri. Program ini disesuaikan dengan keadaan anak. Untuk itu, anak yang akan mengikuti terapi harus diobservasi terlebih dahulu dan dari hasil observasi itu akan ditentukan program untuk anak tersebut.

Dalam ABA disarankan waktu terapi adalah 40 jam per minggu. Keberhasilan terapi ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu berat atau ringannya derajat autisme, usia anak saat pertama kali ditangani, intensitas terapi, metode terapi, IQ anak, kemampuan berbahasa, masalah perilaku, dan peran serta orangtua dan lingkungan.

Peran orangtua

Peran serta orangtua dan masyarakat sangat berpengaruh untuk mendapatkan hasil maksimal. Jadi, harus ada kerja sama yang harmonis antara terapis dan orangtua. Jika anak hanya diberi program atau materi terapi di tempat terapi, sedangkan di rumah tidak diterapkan, upaya itu dipastikan tidak akan berhasil.

Di Bandung sudah banyak lembaga yang menyediakan terapi perilaku untuk anak autis atau anak berkebutuhan khusus lain, misalnya down syndrome, mental retardation, atau cerebral palsy. Beberapa lembaga itu adalah Yayasan Our Dream di Cemara, Sekolah Khusus Total System di Nataendah (Margahayu), Klinik Tanaya di Sulanjana, dan Prananda di Kiaracondong. Beberapa rumah sakit juga sudah menyediakan terapi perilaku.

Untuk wilayah madiun juga sudah ada di rsup dr. Soedono madiun

TATI NURHAYATI Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus; Anggota Terapis Perilaku di Bandung

Autis Bisa Disembuhkan

Terapi Perilaku Anak Autis
Kamis, 8 April 2010 | 15:02 WIB

Oleh TATI NURHAYATI

Istilah autis mulai diperkenalkan oleh Leo Kanner pada 1943. Autis berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Artinya, penyandang autisme asyik dan seakan-akan berada dalam dunianya sendiri. Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang ditandai dengan keterlambatan perkembangan kognitif, konsentrasi, perilaku, bahasa, motorik, sosial, dan emosi.

Anak autis akan sulit melakukan kontak mata dengan orang lain. Mereka lebih tertarik pada benda daripada manusia. Maka, tidak mengherankan melihat anak autis asyik dengan mainannya daripada ikut bermain dengan teman atau keluarganya. Beberapa anak autis mempunyai perilaku mengoceh, ekolali (membeo atau meniru ucapan orang lain), melakukan gerakan motorik yang berulang-ulang (misalnya mengepak-ngepakkan tangan), menyakiti diri sendiri, atau bahkan menyakiti orang lain. Sebagian juga mempunyai minat dan kegiatan yang monoton dan hiperaktif (tidak bisa duduk dengan tenang).

Sampai sekarang penyebab autisme belum pasti. Namun, beberapa teori mengatakan, penyebabnya mulai dari faktor genetika (keturunan), infeksi jamur, sampai virus. Kekurangan nutrisi dan oksigen, polusi udara, air, dan makanan pada saat kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak bayi yang selanjutnya memungkinkan terjadinya autisme.

Banyak orangtua yang mempunyai anak autis bertanya-tanya, "Akan sembuhkah anakku?". Secara anatomis anak autis mengalami kelainan pada otak sehingga mengganggu proses perkembangan anak. Kelainan anatomis pada anak autis ini menurut ilmu kedokteran tidak dapat disembuhkan. Namun, autisme bukan harga mati untuk para orangtua yang memiliki anak autis. Sebab, seperti halnya anak normal, anak autis juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Tentu saja proses pengembangannya tidak semudah atau secepat anak normal.

Dengan beberapa terapi, anak autis memungkinkan berkembang ke arah yang lebih baik. Perilaku anak autis yang oleh kebanyakan orang anggap aneh pun bisa dikurangi dan ditangani. Salah satu terapinya adalah terapi perilaku (behavior therapy).

Metode ABA

Terapi perilaku adalah terapi yang dilaksanakan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan perilaku anak yang terhambat dan mengurangi perilaku yang tidak wajar, kemudian menggantikannya dengan perilaku yang bisa diterima masyarakat.

Terapi perilaku ini merupakan dasar bagi anak-anak autis yang belum patuh (belum bisa kontak mata dan duduk mandiri) karena program dasar terapi perilaku adalah melatih kepatuhan. Kepatuhan ini sangat dibutuhkan saat anak-anak akan mengikuti terapi lain, seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan fisioterapi. Sebab, tanpa kepatuhan ini, terapi yang diikuti tidak akan pernah berhasil. Meski demikian, ternyata masih banyak tempat terapi anak autis atau anak berkebutuhan khusus lain yang tidak menyediakan terapi perilaku sehingga hasilnya tidak efektif.

Salah satu metode terapi perilaku adalah metode applied behavior analysis (ABA). Metode ini dipilih karena memiliki ciri terstruktur, terarah, dan terukur sehingga memudahkan terapis atau orangtua memantau perkembangan anak. Metode ABA ini ditemukan oleh seorang psikolog Amerika, O Ivar Lovaas Phd, sehingga metode ini juga sering disebut dengan metode Lovaas.

Tujuan metode ini adalah mengubah perilaku. Perilaku yang ditargetkan untuk berubah selalu dipilih dan dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Norma atau perilaku ini disesuaikan dengan norma yang ada dan berlaku di masyarakat.

Teknik pelaksanaan ABA menggunakan pendekatan yang bersifat individual. Satu anak ditangani satu terapis, bahkan jika diperlukan didampingi juga oleh tenaga prompting yang membantu anak untuk mengarahkan perilaku yang diinstruksikan terapis. Dalam pengajarannya, ABA mengambil prinsip operant conditioning dan respondent conditioning. Perilaku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan bisa dikontrol atau dibentuk dengan sistem hadiah dan hukuman.

Jika perilaku yang diinginkan muncul, anak akan diberi hadiah. Apabila yang muncul adalah perilaku yang tidak diinginkan, anak akan mendapatkan hukuman. Pemberian hadiah dan hukuman ini akan berpengaruh pada frekuensi munculnya perilaku yang diinginkan atau tidak diinginkan.

Adapun program yang diberikan adalah kepatuhan (kontak mata dan dapat duduk saat belajar), bahasa reseptif, bahasa ekspresif, preakademik, dan bantu diri. Program ini disesuaikan dengan keadaan anak. Untuk itu, anak yang akan mengikuti terapi harus diobservasi terlebih dahulu dan dari hasil observasi itu akan ditentukan program untuk anak tersebut.

Dalam ABA disarankan waktu terapi adalah 40 jam per minggu. Keberhasilan terapi ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu berat atau ringannya derajat autisme, usia anak saat pertama kali ditangani, intensitas terapi, metode terapi, IQ anak, kemampuan berbahasa, masalah perilaku, dan peran serta orangtua dan lingkungan.

Peran orangtua

Peran serta orangtua dan masyarakat sangat berpengaruh untuk mendapatkan hasil maksimal. Jadi, harus ada kerja sama yang harmonis antara terapis dan orangtua. Jika anak hanya diberi program atau materi terapi di tempat terapi, sedangkan di rumah tidak diterapkan, upaya itu dipastikan tidak akan berhasil.

Di Bandung sudah banyak lembaga yang menyediakan terapi perilaku untuk anak autis atau anak berkebutuhan khusus lain, misalnya down syndrome, mental retardation, atau cerebral palsy. Beberapa lembaga itu adalah Yayasan Our Dream di Cemara, Sekolah Khusus Total System di Nataendah (Margahayu), Klinik Tanaya di Sulanjana, dan Prananda di Kiaracondong. Beberapa rumah sakit juga sudah menyediakan terapi perilaku.

Untuk wilayah madiun juga sudah ada di rsup dr. Soedono madiun

TATI NURHAYATI Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus; Anggota Terapis Perilaku di Bandung