Tampilkan postingan dengan label exercise teraphy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label exercise teraphy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Januari 2011

Tujuan Terapi Latihan : “Endurance dan Cardiovaskular Fitness”


Endurance atau daya tahan adalah penting untuk melakukan tugas-tugas motorik yang berulang-ulang dalam AKS dan melakukan level aktivitas fungsional yang terus menerus seperti berjalan/naik turun tangga –> kerja dalam waktu yang lama. Tipe endurance terdiri atas daya tahan otot dan daya tahan tubuh.

Daya tahan otot adalah kemampuan suatu otot untuk berkontraksi secara berulang-ulang atau terjadi ketegangan yang terus menerus dan tahan terhadap kelelahan dalam jangka waktu yang lama. Daya tahan tubuh adalah kemampuan seseorang untuk melakukan latihan intensitas rendah secara terus menerus, seperti berjalan, jogging atau naik turun tangga dalam jangka waktu yang lama –> bentuk latihannya dinamakan aerobik/kondisioning untuk meningkatkan cardiorespiratory fitness.

Perubahan yang terjadi pada otot, sistem cardiorespirator jika daya tahan meningkat

Perubahan segera selama latihan

  • Peningkatan aliran darah ke otot (tuntutan O2), peningkatan denyut nadi, peningkatan stroke volume, cardiac output dan peningkatan tahanan perifer –> tekanan darah bisa meningkat jika latihan berat
  • Peningkatan tuntutan dan konsumsi O2, peningkatan frekuensi napas dan kedalaman napas –> otot-otot respirasi sekunder berkontraksi.

Perubahan adaptasi dalam jangka waktu yang lama

  • Perubahan pada otot, dimana kepadatan pembuluh kapiler di otot menjadi meningkat –> adanya latihan intensitas rendah dalam waktu yang lama (sampai titik kelelahan) menyebabkan terjadinya aktifitas aerobik dalam otot untuk memberikan energi selama kontraksi otot, tuntutan O2 yang lebih besar menyebabkan pembuluh kapiler oto menjadi lebih padat dan meningkat. Perubahan adaptasi pada serabut otot tipe I dan IIa berkaitan dengan meningkatnya daya tahan otot.
  • Perubahan pada sistem kardiovaskular dimana cardiac output dan stroke volume menjadi meningkat serta denyut nadi istirahat menjadi turun –> peningkatan efisiensi kerja jantung.

Petunjuk terapi latihan untuk perkembangan endurance

  • Untuk daya tahan otot –> diaplikasikan resisted exercise dengan beban sedang sampai titik kelelahan.
  • Untuk daya tahan tubuh –> diaplikasikan program aerobik exercise atau program-program conditioning, untuk meningkatkan sistem transportasi O2 yang efektif dan uptake O2 maksimal, Program latihan tersebut antara lain:
    - Latihan yang diarahkan pada group otot yang besar, seperti berjalan , berlari, berenang dan bersepeda.
    - Latihan selama 15-45 menit/lebih, frekuensi latihan.

Proprioceptif Neuromuscular Fasilitation (PNF)

PNF memiliki pengertian yang mendasar. Dari kata Fasilitation atau fasilitasi dapat di artikan mempermudah atau membuat mudah. Fasilitasi ditujukan pada reaksi atau respon neuromuscular dengan jalan memberikan suatu stimulus dari luar/perifer terhadap saraf aferen khusus yang propriosensor. Dengan demikian arti PNF adalah fasilitasi respon neuromuskular melalui propriosensor.

Prinsip dasar PNF

Prinsip dasar PNF adalah prinsip yang mendasari teknik pelaksanaan PNF yang harus ada pada setiap penerapan teknik PNF. Adapun prinsip dasar PNF adalah :

  • Optimal resisten
  • Manual kontak
  • Stimulasi verbal
  • Timbal balik visual
  • Body mekanik
  • Traksi dan aproksimasi
  • Irradiasi
  • Reinforcement
  • Komponen gerak

Pola gerakan PNF pada Lengan

  • Fleksi – abduksi – eksorotasi
  • Fleksi – abduksi – eksorotasi dengan elbow fleksi
  • Fleksi – abduksi – eksorotasi dengan elbow ekstensi
  • Ekstensi – adduksi – endorotasi
  • Ekstensi – adduksi – endorotasi dengan elbow fleksi
  • Ekstensi – adduksi – endorotasi dengan elbow ekstensi
  • Fleksi – adduksi – eksorotasi
  • Fleksi – adduksi – eksorotasi dengan fleksi elbow
  • Fleksi – adduksi – eksorotasi dengan ekstensi elbow
  • Ekstensi – abduksi – endorotasi
  • Ekstensi – abduksi – endorotasi dengan fleksi elbow
  • Ekstensi – abduksi – endorotasi dengan ekstensi elbow

Konsep Dasar Terapi Bugnet

Terapi Bugnet adalah metode pengobatan berdasarkan kesanggupan dan kecenderungan manusia untuk mempertahankan sikap secara refleks lewat sensibilitas yang dalam. Latihan ini disebut juga Auto resitance.

Dalam penerapannya terapi ini khusus ditujukan pada pemulihan koordinasi sikap tubuh yang baik dan benar atau mengoreksi sikap badan/postur yang kurang baik.

Tujuan Terapi Bugnet

- Menciptakan keharmonisan dalam kelompok jaringan otot, denganefek penyembuhan dari otot yang diterapi.

- Memperkuat otot-otot yang lemah, sehingga memperbaiki fungsi dari seluruh peralatan lokomotor. Otot-otot yang lemah dapat dipengaruhi secara menguntungkan dengan membuat otot-otot antagonis lentur, dengan demikian perhatian ditujukan pada otot-otot yang kuat.

Ciri terapi bugnet

  1. Otot tidak pernah dilatih secara individu
  2. Otot dilatih dengan rantai tertutup
  3. Otot dilatih secara menyeluruh
  4. Kontraksi otot isometris, dapat dimaksimal dengan tahanan yang meningkat
  5. Otot dapat diberikan stimulasi berupa manipulasi muscular

Indikasi

  1. Kelainan pada sikap tulang belakang, pinggul, gelang bahu dan anggota gerak
  2. Immobilisasi dengan gips atau korest
  3. Bila pergerakkan tidak diperbolehkan atau adanya rasa sakit yang sangat (post operasi, dll)

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada terapi Bugnet

  1. Posisi awal
  2. Fiksasi
  3. Resisten
  4. Respon pasien
  5. Manipulasi otot
  6. Pengaturan pernapasan
  7. Visualisasi
  8. Penjelasan awal dan aba-aba
    Hal tersebut harus diperhatikan karena penerapannya selalu bersamaan.

Latihan dasar terapi Bugnet

Terapi Bugnet memiliki 2 bentuk terapi latihan yaitu :

1. Latihan dasar diberikan pada pelvic, trunk, bahu, lutu dan kaki. Latihan ini mula-mula dilakukan secara simetris dan dapat dilanjutkan ke asimetris jika penderita sudah menguasai gerakan tersebut.

2. Latihan yang telah dikembangkan sesuai dengan problematik fisioterapi.

Tujuan Terapi Latihan : “Mobilitas dan Fleksibilitas”


Mobilitas dan fleksibilitas untuk jaringan kontraktil dan non kontraktil serta sendi adalah penting untuk gerakan fungsional normal. Jika gerakan normal terbatas/terhambat karena adanya penyakit atau trauma pada jaringan lunak dan sendi (timbul nyeri, imflamasi atau kelemahan) maka akan terjadi adaptasi pemendekan (tightness) pada jaringan lunak dan sendi, akan mengganggu mobilitas dan fleksibilitas.

Jaringan lunak terdiri atas jaringan kontraktil dan non-kontraktil, yaitu otot, jaringan konnectif dan kulit. Otot memiliki unsur kontraktil dan elastis, dapat memendek ketika berkontraksi dan relax setelah kontraksi serta dapat diulur secara pasif, jika immobile dalam waktu lama maka fleksibilitasnya akan hilang dan terjadi adaptasi pemedekan, dikenal dengan “Kontraktur”.

Untuk mengembalikan fleksibilitas penuh, maka perlu diperhatikan unsur neurofisiologi otot (fungsi muscle spindle dan golgi tendon organ), proses relaksasi dan unsur elastis pasif dari otot, bentuk terapi latihannya adalahnya Pasif/aktif streching, Contract Relax + Streching, Hold rilex + Streching. Jaringan konnektif utamanya tersusun oleh jaringan collagen, akan memanjang secara perlahan jika diulur dan akan beradaptasi memendek jika di immobilisasi, jika terjadi injury (luka) maka selama proses penyembuhan akan terbentuk jaringan konnektif yang padat, disebut “scar”.

Immobilisasi dalam waktu yang lama harus dihindari, untuk mencegah formasi jaringan fibrotik yang yang padat dan kontraktur yang menetap, bentuk terapi latihannya adalah pasif streching dan mobilisasi sendi. Mobilitas atau fleksibilitas normal kulit harus juga dipelihara untuk menghasilkan gerakan normal, ketika terjadi jaringan parut (scar tissue) setelah luka bakar, tergores atau tercabik maka akan berkembang tightness pada kulit dan menyebabkan keterbatasan gerak, bentuk terapi latihannya adalah aktif/pasif exercise lebih awal untuk meminimalkan tightness.

Mobilitas Sendi

Untuk menghasilkan gerakan normal diperlukan kinematik sendi yang sesuai, perlu laxity kapsul yang cukup untuk menghsilkan gerakan normal roll-slide, adanya pemendekan atau kekakuan kapsul sendi akan membatasi gerakan, bentuk terapi latihannya adalah mobilisasi sendi.

Teknik Khusus PNF


1. Hold Rileks
Kasus : keterbatasan gerak/ROM sendi lutut
Pelaksanaan : penderita tengkurap dengan lutut fleksi. Fisioterapi disamping penderita, satu tangan pada sendi lutut, tangan yang lain dibagian distal sendi pergelangan kaki. Penderita diperintahkan menggerakkan sendi lututnya ke ekstensi sebatas ROM yang ada melawan tahanan yang diberikan fisioterapis secara optimal pada posisi tersebut selama 8 hitungan, hingga terjadi isometric kontraksi selama 8 detik satu kali gerakan dan rileks. Diulang 3-4 kali, setelah itu penderita disuruh menggerakkan lututnya kearah ekstensi sekuat mungkin diikuti pemberian force passive movement kearah ekstensi lutut ketika pasien rileks.
Tujuan: mengulur m. hamstring, memperkuat hamstring dan m. quadriceps. Latihan diulang 5-6 kali setiap terapi.

2. Kontraks rileks
Kasus : keterbatasan sendi lutut
Pelaksanaan : penderita tengkurap dengan lutut fleksi, fisioterapis disamping penderita, satu tangan pada sendi lutut dan tangan yang lain pada bagian distal ankle joint. Lalu penderita disuruh menggerakkan sendi lututnya kea rah ekstensi sebatas ROM yang ada , lalu pasien disuruh menggerakkan sendi lututnya ke arah fleksi dengan melawan tahanan fisioterapis sehingga terjadi isotonic kontraksi kea rah fleksi lutut yang dilakukan 3-4 kali, kemudian penderita disuruh menggerakkan lututnya kea rah ekstensi agar m. hamstring rileks sepenuhnya. Lalu penderita melakukan gerakan ekstensi lutut sekuat mungkin agar m. quadriceps berkontraksi maksimal, lalu fisioterapis memberikan force passive movement ke arak ekstensi.
Tujuan : mengulur dan memperkuat hamstring dan menambah ROM ekstensi dan memperkuat koordinasi gerakan.

Pola Gerakan PNF Pada Tungkai


• Fleksi – abduksi – endorotasi
• Fleksi – abduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Fleksi – abduksi – endorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi dengan knee fleksi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi dengan knee ekstensi
• Fleksi – adduksi – endorotasi
• Fleksi – adduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Fleksi – adduksi – endorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi
• Ekstensi – abduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi dengan knee fleksi

Terapi Bobath


Terapi ini pertama kali diperkenalkan oleh Bertha Bobath. Terapi ini dikenal nama NDT (Neuro Developmental Treatment).

Dasar metode Bobath
Dasar pengobatan bobath ialah perkembangan motoris yang normal, dimana righting reaction dan keseimbangan merupakan faktor yang sangat penting. Prinsip pengobatannya ialah fasilitasi, inhibisi dan stimulasi.

Righting reaction
Reaksi yang pertama kali muncul pada anak ialah righting reaction yaitu pada usia 10-12 bulan dan hilang pada usia 6 tahun. Yang termasuk righting reaction ialah:
1. Neck righting reaction
Dengan memutar kepala secara pasif atau aktif ke salah satu sisi dengan posisi terlentang akan terjadi gerakan memutar ke samping atau miring.
2. Labirinthing reaction
Reaksinya ialah menegakkan kepala dalam posisi tengkurap, muncul pada usia 1-6 bulan
3. Reaksi vaetibular
Reaksi mempertahankan kepala saat terlentang menuju keduduk
4. Body righting reaction (gerakan kepala)
Mengatur posisi kepala diudara, timbul saat kaki anak disentuhkan dilantai, yang diikuti tegaknya kepala.
5. Body righting reaction (gerakan tubuh)
Terdapat pada anak usia 6-8 bulan. Modifikasi dari neck righting reaction. Kepala diputar akan diikuti rotasi bahu, lalu diikuti rotasi pelvis atau sebaliknya. Reaksi ini membantu anak tengkurap sendiri.
6. Optical righting reaction
Reaksi untuk melihatm berkembang sesuai dengan kematangan usia anak.

Reaksi keseimbangan

Diperlukan untuk mempertahankan posisi, mengatur dan menyesuaikan sikap tubuh dan anggota gerak. Muncul saat usia 6 bulan. Reaksi ini kompleks yang bekerja sama dengan sejumalh reaksi yaitu:
1. Antigravity Mechanism
Disebut juga supporting reaction, untuk mempertahankan tubuh terhadap gravitasi
2. Postural fiksasi
Memberikan fiksasi pada bagian tubuh, misalnya kepala dengan tubuh
3. Counter posisi
Reaksi pengaturan posisi badan dan gerakan, sehingga memungkinkan gerakan selama mempertahankan suatu posisi.
4. Tilt reaction
Reaksi mempertahankan keseimbangan sewaktu diangkat dari bidang horizontal. Mulai timbul usia 6 bulan.
5. Protective reaction
Reaksi mencegah badan jatuh ke bawah, misalnya berdiri di dorong ke depan, reaksi melangkah atau melompat ke depan. Selain reaksi tersebut juga perlu diketahui ialah: reflex landau, ATNR, menggenggam, STNR, dsb.

Sumber : Buku Terapi Latihan (Teknik Khusus Terapi Latihan)
Oleh : Suharto,S.Pd, M.Kes, RPT

Prinsip Terapi Bobath dan Program Pengobatan


PRINSIP TERAPI BOBATH
1. Inhibisi
Ialah menghambat pola gerak abnormal maupun sikap tubuh abnormal. Tekniknya di sebut RIP (Refleks inhibisi postur), misalnya spastisitus ekstensor, anak diposisikan ke fleksi
2. Fasilitasi
Upaya memberikan kemudahan, disini di berikan fasilitasi adalah posisi dan gerakan yang lebih normal.
3. Stimulasi
Biasanya diberikan pada kasus hypotonic. Tekniknya berupa kompresi, tapping atau stroking, juga bisa dengan goresan es.
4. Key point of control (KPOC)
Tempat tertentu yang paling efektif memberikan inhibisi, fasilitasi maupun stamulasi. Biasanya sendi proksimal, misalnya panggul, bahu dan sebagainya, meskipun tempat-tempat lain juga bisa di gunakan.

PROGRAM PENGOBATAN
1. Fasilitasi duduk dari posisi miring
2. Fasilitasi duduk dari tengkurap
3. Fasilitasi dalam posisi merangkak
4. Fasilitasi dan atau stabilisasi posisi duduk
5. Berdiri dengan bantuan atau sandaran

Sumber : Buku Terapi Latihan (Teknik Khusus Terapi Latihan)
Oleh : Suharto,S.Pd, M.Kes, RPT

Pelaksanaan Frenkle Exercise Pada Posisi Terlentang dan Dua Tungkai

Frenkle exercise adalah suatu latihan di tujukan agar penderita menggunakan sensasi yang masih ada untuk membantu memperbaiki kordinasi gerakan

Syarat-syarat latihan frenkle
1. Aba-aba harus monoton
2. Setiap latihan harus di kuasai oleh penderita sebelum dig anti dengan gerakan yang lain
3. Latihan dengan kerja otot berat dihindari
4. Gerakan di mulai dari full ROM di tingkatkan ke gerakan yang tidak full ROM
5. Gerakan mula-mula cepat lalu lambat
6. Di mulai dengan mata terbuka ke mata tertutup
7. Latihan harus di selingi istirahat

PELAKSANAAN
1. Latihan pada posisi terlentang
Latihan satu tungkai, selama latihan kaki tetap dorso fleksi :
a. Fleksikan satu tungkai : hip, knee, kaki bergeser pada bed
b. Fleksi seperti di atas di tambah adduksi, abduksi dan kembali ke ekstensi
c. Fleksi seperti di atas, hanya ½ ROM lalu ke ekstensi
d. Fleksi seperti c di tambah abduksi, adduksi lalu ke ekstensi
e. Fleksi lalu hentikan pada ROM tertentu selanjutnya ke ekstensi
f. Seperti pada e, tetapi di hentikan oleh fisioterapis pada ROM tertentu dengan aba-aba dari fisioterapis

Latihan dua tungkai
a. Fleksi hip, knee satu tungkai, tumit sedikit terangkat dari bed, kembali ekstensi
b. Tumit di tempatkan di patella, kembali ekstensi
c. Seperti di atas tetapi di hentikan oleh fisioterapis pada posisi tertentu
d. Tumit di letakkan pada tengah tibia, lalu di angkat kembali dan di letakkan di sampingnya dan ke ekstensi lagi
e. Tumit di tempatkan pada lutut, lalu turunkan di samping, kemudian tumit di letakkan lagi di tengah tibia, lalu ke ankle, kembali ke samping dan kembali ke ekstensi
f. Tumit di tempatkan pada lutut lalu di geser sepanjang tibia sampai di ankle, kembali lagi ke ekstensi
g. Seperti f tetapi tumit setelah sampai ke ankle kembali ke lutut selanjutnya ke ekstensi
h. Fleksi dan ekstensi kedua tungkai dengan tumit tetap pada bed
i. Seperti di atas tetapi di hentikan pada posisi tertentu oleh penderita
j. Satu tungkai fleksi, lalu tungkai abduksi dan tungkai kanan fleksi, di lanjutkan dengan adduksi tungkai kiri dan ekstensi tungkai kanan di ulang pada tungkai yang lain yaitu tungkai yang kanan
k. Tungkai kiri fleksi, tungkai kanan abduksi dan fleksi pada waktu bersamaan, lalu tungkai kanan adduksi, terus ekstensi keduanya tanpa tumit menyentuh bed
l. Fisioterapis meletakkan salah satu jarinya pada suatu tempat pada tungkai kemudian penderita di suruh menempatkan tumit dari tungkai yang satunya pada tempat dimana terdapat jari fisioterapis
m. Seperti di atas, pada waktu tumit penderita sudah dekat dengan jari terapis maka jari itu di pindahkan dan penderita di suruh mengikuti dengan tumitnya
n. Tumit tungkai kanan di tempatkan pada lutut tungkai kiri, lalu tungkai kiri di fleksikan dan di ekstensikan
o. Tumit kanan di tempatkan pada lutut kiri kemudian geserkan pada tibia sampai ankle, sementara itu tungkai kiri di fleksikan kemudian tungkai kiri kembali ekstensi

Tujuan Terapi Latihan : “Mobilitas dan Fleksibilitas”


Mobilitas dan fleksibilitas untuk jaringan kontraktil dan non kontraktil serta sendi adalah penting untuk gerakan fungsional normal. Jika gerakan normal terbatas/terhambat karena adanya penyakit atau trauma pada jaringan lunak dan sendi (timbul nyeri, imflamasi atau kelemahan) maka akan terjadi adaptasi pemendekan (tightness) pada jaringan lunak dan sendi, akan mengganggu mobilitas dan fleksibilitas.

Jaringan lunak terdiri atas jaringan kontraktil dan non-kontraktil, yaitu otot, jaringan konnectif dan kulit. Otot memiliki unsur kontraktil dan elastis, dapat memendek ketika berkontraksi dan relax setelah kontraksi serta dapat diulur secara pasif, jika immobile dalam waktu lama maka fleksibilitasnya akan hilang dan terjadi adaptasi pemedekan, dikenal dengan “Kontraktur”.

Untuk mengembalikan fleksibilitas penuh, maka perlu diperhatikan unsur neurofisiologi otot (fungsi muscle spindle dan golgi tendon organ), proses relaksasi dan unsur elastis pasif dari otot, bentuk terapi latihannya adalahnya Pasif/aktif streching, Contract Relax + Streching, Hold rilex + Streching. Jaringan konnektif utamanya tersusun oleh jaringan collagen, akan memanjang secara perlahan jika diulur dan akan beradaptasi memendek jika di immobilisasi, jika terjadi injury (luka) maka selama proses penyembuhan akan terbentuk jaringan konnektif yang padat, disebut “scar”.

Immobilisasi dalam waktu yang lama harus dihindari, untuk mencegah formasi jaringan fibrotik yang yang padat dan kontraktur yang menetap, bentuk terapi latihannya adalah pasif streching dan mobilisasi sendi. Mobilitas atau fleksibilitas normal kulit harus juga dipelihara untuk menghasilkan gerakan normal, ketika terjadi jaringan parut (scar tissue) setelah luka bakar, tergores atau tercabik maka akan berkembang tightness pada kulit dan menyebabkan keterbatasan gerak, bentuk terapi latihannya adalah aktif/pasif exercise lebih awal untuk meminimalkan tightness.

Mobilitas Sendi

Untuk menghasilkan gerakan normal diperlukan kinematik sendi yang sesuai, perlu laxity kapsul yang cukup untuk menghsilkan gerakan normal roll-slide, adanya pemendekan atau kekakuan kapsul sendi akan membatasi gerakan, bentuk terapi latihannya adalah mobilisasi sendi.

Terapi Latihan William Fleksion Exercise


William Fleksion Exercise adalah adalah suatu latihan yang ditujukan pada otot fleksor lumbosacral spine khususnya m. abdominalis dan gluteus maksimus.

Tujuan

Menurunkan nyeri dengan cara meningkatkan kekuatan otot abdominal dan lumbosacral serta mengulur back ekstensor.

Petunjuk

Latihan inin harus dilakukan setiap hari dan dihentikan atau tidak boleh dilakukan saat timbul rasa nyeri.

Pelaksanaan

1. Pasien rileks dan comfortable

2. Posisi awal

Pasien tidur terlentang dengan lutut bengkok dan kaki dirapatkan di bed. Lalu kontraksikan otot punggung dengan menekan bed selama 5 detik, kemudian rileks.

Ini diulang selama 10 kali latihan. tempatkan tangan di bawah punggung untuk memastikan punggung pasien datar.

3. Posisi sama dengan latihan pertama, dengan kedua lengan menyilang di dada dan kepala penderita sentuhkan ke dada, angkat hingga bahu meninggalkan bed dan kontraksikan otot perut selama 6 detik atau 6 kali hitungan, lalu rileks. Lakukan latihan sebanyak 10 kali dalam setiap kali pengobatan.

4. Posisi sama dengan no.3, dilakukan dengan mengangkat kedua tungkai dalam posisi lutut bengkok dengan mengangkat kepala dan bahu selama 10 kali setiap 5 detik. Yang penting diperhatikan latihan ketiga dan keempat ini ialah membawa lutut kearah dagu sekuat mungkin sebelum dibantu dengan kedua tangan penderita sampai menyentuh dada.

5. Posisi pasien tidur tengkurap dengan kedua lengan menyangga badan, lalu tarik satu tungkai ke depan dengan fleksi lutut dan hip dan tekan ke bawah, dilakukan 10 kali secara bergantian antara satu tungkai dengan tungkai lainnya.

6. Posisi berdiri/bersandar di tembok badan rapat dengan jarak tumit dari dinding 4-6 inci, kemudian pasien menggeser tungkainya ke depan dengan belakang tetap menempel di tembok dan posisi ini dipertahankan selama 10 detik dan dilakukan secara berulang dan ditingkatkan.

Pelaksanaan Teknik Terapi Latihan R.Mc. Kenzie Exercises

Pelaksanaan Teknik Terapi Latihan R.Mc. Kenzie Exercises

Latihan 1 :

  • Penderita tidur tengkurap, kedua tangan sejajar badan, kepala menoleh ke samping, atur pernapasan dan ikuti dengan relaksasi otot punggung. Posisi ini dipertahankan kira-kira 5 menit, sehingga tercapai relaksasi.

Latihan 2 :

  • Penderita tidur tengkurap bertumpu pada kedua siku, pandangan lurus ke depan, pertahankan posisi kira-kira 5 menit sehingga dirasakan bagian pinggang ke bawah rileks. Latihan ini selalu diikuti latihan 1 pada setiap sessionnya.

Latihan 3:

  • Penderita tidur tengkurap, kedua tangan diletakkan pada posisi seperti push up. Kemudian tangan menekan lantai sehingga siku lurus, badan terangkat ke atas sampai pinggang terasa sebatas rasa sakit, pertahankan selama 1-2 detik dan usahakan pelvis serta kedua tungkai tetap menempel di lantai. Latihan ini efektif untuk terapi saat akut, juga dapat mengurangi ketegangan otot punggung dan mencegah berulangnya sakit pinggang. Setiap kali latihan ulangi 10 kali gerakan dilakukan 4-6 kali sehari. Apabila dalam 1 minggu tidak ada perubahan atau justru sakitnya bertambah maka perlu didiskusikan dengan dokter.

Latihan 4 :

  • Penderita berdiri tegak dengan kedua tangan diletakkan pada bagian punggung, kemudian badan digerakkan lurus dengan kedua tangan sebagai fiksator, diusahakan kedua lutut dalam posisi lurus, selanjutnya posisikan kembali tegak, latihan dilakukan selama 1-2 detik.

Latihan 5 :

  • Penderita tidur terlentang dengan fleksi sendi paha dan lutut, kemudian dengan kedua lengan, kedua tungkai ditarik kearah dada, kepala tidak perlu diangkat kemudian kembali ke posisi semula. Ulangi 6-8 kali gerakan, lakukan 2-4 kali sehari setiap kali latihan seharusnya diikuti dengan latihan 3.

Latihan 6 :

  • Posisi penderita duduk dipinggir kursi, kepala fleksi kedua tangan diletakkan di atas lutut dengan lurus kemudian secara pelan-pelan pinggang dibuat dalam posisi lordosis yang ekstrem dalam beberapa saat, kemudian ke posisi awal. Kedua telapak kaki menumpu lantai, pandangan lurus ke depan , gerakan badan ke depan dan kedua tangan menyentuh lantai . Kembali lagi pelan-pelan ke posisi semula. Sebagai latihan lebih lanjut gerakan kepala mendekati lantai dan kedua tangan dapat memegang pergelangan kaki. Ulangi setiap 5-6 kali dan 3-4 kali sehari. Latihan ini dilakukan bila latihan 5 dapat dilakukan tanpa sakit dan setiap melakukan latihan ini harus diikuti dengan latihan 3.

Terapi Latihan : Fisioterapi pada PoolTherapy


Fisioterapi pada PoolTherapy

Therapy kolam renang dengan air hangat memberi dampak kebebasan bergerak bagi pasien dan mengurasi rasa sakit.Therapy didalam kolam renang memungkinkan untuk berdiri bebas tanpa pegangan sehingga memilki manfaat tidak terjadi benturan dan tekanan sebagaimana bila dilakukan didarat.Therapy dengan media kolam renang sangatlah banyak manfaatnya pada penderita dengan gangguan muskuloskeletal, therapy dikolam renang tentu berbeda dengan therapy diatas bed/didaratan.

Keuntungan-keuntungan therapy didalam kolam renang selain faktor keunggulan sifat-sifat zat cair itu sendiri seperti pada hukum archimides, hukum pascal, adanya keuntungan yang bersifat psykologis berupa rekreasi dan hiburan sehingga pasien tidak merasa jenuh dan bosan dan tidak merasakan dirinya memiliki gangguan, apalagi apabila kolam renang memiliki suhu temperatur yang bisa dirubah panas atau dingin, dan memiliki mesin turbulensi untuk menyemprotkan air sebagai pemijatan dan rileksasi. Zat cair memiliki sifat-sifat yang unik berbeda dengan jenis zat yang lain. Di bawah ini merupakan penjelasan dasar mengenai hukum pascal dan hukum archimides.

Hukum-hukum Hidrostatika

Hukum Pascal

Hukum Pascal mengatakan bahwa:“tekanan pada suatu titik akan diteruskan kesemua titik lain secara sama”.

Artinya bila tekanan pada suatu titik dalam zat cair ditambah dengan suatu harga, maka tekanan semua titik di tempat lain pada zat cair yang sama akan bertambah dengan harga yang sama pula.

Hukum Archimedes

Salah satu hukum hidrostatika yang lain adalah hukum archimedes yang mengatakan bahwa:“Setiap benda yang berada dalam satu fluida maka benda itu akan mengalami gaya keatas, yang disebut gaya apung, sebesar berat air yang dipindahkannya”.

Hukum ini juga bukan suatu hukum fundamental karena dapat diturunkan dari hukum newton juga.Bila gaya archimedes sama dengan gaya berat W maka resultan gaya =0 dan benda melayang .

Bila FA>W maka benda akan terdorong keatas akan melayang

Jika rapat massa fluida lebih kecil daripada rapat massa balok maka agar balok berada dalam keadaan seimbang,volume zat cair yang dipindahkan harus lebih kecil dari pada volume balok.Artinya tidak seluruhnya berada terendam dalam cairan dengan perkataan lain benda mengapung. Agar benda melayang maka volume zat cair yang dipindahkan harus sama dengan volume balok dan rapat massa cairan sama dengan rapat rapat massa benda.

Jika rapat massa benda lebih besar daripada rapat massa fluida, maka benda akan mengalami gaya total ke bawah yang tidak sama dengan nol. Artinya benda akan jatuh tenggelam.

Alat bantu therapy selain kolam renang yang memadai juga adanya pelampung, bisa berupa bola karet, ban dalam mobil, atau gabus besar.