
Ultra Sound
Alat fisioterapi Merk BBH ini boleh dibilang sangat murah, gratis ongkos kirim ke seluruh wilayah indonesia.
Kategori alat fisioterapi

Endurance atau daya tahan adalah penting untuk melakukan tugas-tugas motorik yang berulang-ulang dalam AKS dan melakukan level aktivitas fungsional yang terus menerus seperti berjalan/naik turun tangga –> kerja dalam waktu yang lama. Tipe endurance terdiri atas daya tahan otot dan daya tahan tubuh.
Daya tahan otot adalah kemampuan suatu otot untuk berkontraksi secara berulang-ulang atau terjadi ketegangan yang terus menerus dan tahan terhadap kelelahan dalam jangka waktu yang lama. Daya tahan tubuh adalah kemampuan seseorang untuk melakukan latihan intensitas rendah secara terus menerus, seperti berjalan, jogging atau naik turun tangga dalam jangka waktu yang lama –> bentuk latihannya dinamakan aerobik/kondisioning untuk meningkatkan cardiorespiratory fitness.
Perubahan yang terjadi pada otot, sistem cardiorespirator jika daya tahan meningkat
Perubahan segera selama latihan
Perubahan adaptasi dalam jangka waktu yang lama
Petunjuk terapi latihan untuk perkembangan endurance
PNF memiliki pengertian yang mendasar. Dari kata Fasilitation atau fasilitasi dapat di artikan mempermudah atau membuat mudah. Fasilitasi ditujukan pada reaksi atau respon neuromuscular dengan jalan memberikan suatu stimulus dari luar/perifer terhadap saraf aferen khusus yang propriosensor. Dengan demikian arti PNF adalah fasilitasi respon neuromuskular melalui propriosensor.
Prinsip dasar PNF
Prinsip dasar PNF adalah prinsip yang mendasari teknik pelaksanaan PNF yang harus ada pada setiap penerapan teknik PNF. Adapun prinsip dasar PNF adalah :
Pola gerakan PNF pada Lengan
Terapi Bugnet adalah metode pengobatan berdasarkan kesanggupan dan kecenderungan manusia untuk mempertahankan sikap secara refleks lewat sensibilitas yang dalam. Latihan ini disebut juga Auto resitance.
Dalam penerapannya terapi ini khusus ditujukan pada pemulihan koordinasi sikap tubuh yang baik dan benar atau mengoreksi sikap badan/postur yang kurang baik.
Tujuan Terapi Bugnet
- Menciptakan keharmonisan dalam kelompok jaringan otot, denganefek penyembuhan dari otot yang diterapi.
- Memperkuat otot-otot yang lemah, sehingga memperbaiki fungsi dari seluruh peralatan lokomotor. Otot-otot yang lemah dapat dipengaruhi secara menguntungkan dengan membuat otot-otot antagonis lentur, dengan demikian perhatian ditujukan pada otot-otot yang kuat.
Ciri terapi bugnet
Indikasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada terapi Bugnet
Latihan dasar terapi Bugnet
Terapi Bugnet memiliki 2 bentuk terapi latihan yaitu :
1. Latihan dasar diberikan pada pelvic, trunk, bahu, lutu dan kaki. Latihan ini mula-mula dilakukan secara simetris dan dapat dilanjutkan ke asimetris jika penderita sudah menguasai gerakan tersebut.
2. Latihan yang telah dikembangkan sesuai dengan problematik fisioterapi.
Mobilitas dan fleksibilitas untuk jaringan kontraktil dan non kontraktil serta sendi adalah penting untuk gerakan fungsional normal. Jika gerakan normal terbatas/terhambat karena adanya penyakit atau trauma pada jaringan lunak dan sendi (timbul nyeri, imflamasi atau kelemahan) maka akan terjadi adaptasi pemendekan (tightness) pada jaringan lunak dan sendi, akan mengganggu mobilitas dan fleksibilitas.
Jaringan lunak terdiri atas jaringan kontraktil dan non-kontraktil, yaitu otot, jaringan konnectif dan kulit. Otot memiliki unsur kontraktil dan elastis, dapat memendek ketika berkontraksi dan relax setelah kontraksi serta dapat diulur secara pasif, jika immobile dalam waktu lama maka fleksibilitasnya akan hilang dan terjadi adaptasi pemedekan, dikenal dengan “Kontraktur”.
Untuk mengembalikan fleksibilitas penuh, maka perlu diperhatikan unsur neurofisiologi otot (fungsi muscle spindle dan golgi tendon organ), proses relaksasi dan unsur elastis pasif dari otot, bentuk terapi latihannya adalahnya Pasif/aktif streching, Contract Relax + Streching, Hold rilex + Streching. Jaringan konnektif utamanya tersusun oleh jaringan collagen, akan memanjang secara perlahan jika diulur dan akan beradaptasi memendek jika di immobilisasi, jika terjadi injury (luka) maka selama proses penyembuhan akan terbentuk jaringan konnektif yang padat, disebut “scar”.
Immobilisasi dalam waktu yang lama harus dihindari, untuk mencegah formasi jaringan fibrotik yang yang padat dan kontraktur yang menetap, bentuk terapi latihannya adalah pasif streching dan mobilisasi sendi. Mobilitas atau fleksibilitas normal kulit harus juga dipelihara untuk menghasilkan gerakan normal, ketika terjadi jaringan parut (scar tissue) setelah luka bakar, tergores atau tercabik maka akan berkembang tightness pada kulit dan menyebabkan keterbatasan gerak, bentuk terapi latihannya adalah aktif/pasif exercise lebih awal untuk meminimalkan tightness.
Mobilitas Sendi
Untuk menghasilkan gerakan normal diperlukan kinematik sendi yang sesuai, perlu laxity kapsul yang cukup untuk menghsilkan gerakan normal roll-slide, adanya pemendekan atau kekakuan kapsul sendi akan membatasi gerakan, bentuk terapi latihannya adalah mobilisasi sendi.
1. Hold Rileks
Kasus : keterbatasan gerak/ROM sendi lutut
Pelaksanaan : penderita tengkurap dengan lutut fleksi. Fisioterapi disamping penderita, satu tangan pada sendi lutut, tangan yang lain dibagian distal sendi pergelangan kaki. Penderita diperintahkan menggerakkan sendi lututnya ke ekstensi sebatas ROM yang ada melawan tahanan yang diberikan fisioterapis secara optimal pada posisi tersebut selama 8 hitungan, hingga terjadi isometric kontraksi selama 8 detik satu kali gerakan dan rileks. Diulang 3-4 kali, setelah itu penderita disuruh menggerakkan lututnya kearah ekstensi sekuat mungkin diikuti pemberian force passive movement kearah ekstensi lutut ketika pasien rileks.
Tujuan: mengulur m. hamstring, memperkuat hamstring dan m. quadriceps. Latihan diulang 5-6 kali setiap terapi.
2. Kontraks rileks
Kasus : keterbatasan sendi lutut
Pelaksanaan : penderita tengkurap dengan lutut fleksi, fisioterapis disamping penderita, satu tangan pada sendi lutut dan tangan yang lain pada bagian distal ankle joint. Lalu penderita disuruh menggerakkan sendi lututnya kea rah ekstensi sebatas ROM yang ada , lalu pasien disuruh menggerakkan sendi lututnya ke arah fleksi dengan melawan tahanan fisioterapis sehingga terjadi isotonic kontraksi kea rah fleksi lutut yang dilakukan 3-4 kali, kemudian penderita disuruh menggerakkan lututnya kea rah ekstensi agar m. hamstring rileks sepenuhnya. Lalu penderita melakukan gerakan ekstensi lutut sekuat mungkin agar m. quadriceps berkontraksi maksimal, lalu fisioterapis memberikan force passive movement ke arak ekstensi.
Tujuan : mengulur dan memperkuat hamstring dan menambah ROM ekstensi dan memperkuat koordinasi gerakan.
• Fleksi – abduksi – endorotasi
• Fleksi – abduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Fleksi – abduksi – endorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi dengan knee fleksi
• Ekstensi – adduksi – eksorotasi dengan knee ekstensi
• Fleksi – adduksi – endorotasi
• Fleksi – adduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Fleksi – adduksi – endorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi
• Ekstensi – abduksi – endorotasi dengan knee fleksi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi dengan knee ekstensi
• Ekstensi – abduksi – eksorotasi dengan knee fleksi