Tampilkan postingan dengan label Asuhan Fisioterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Fisioterapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

Asuhan Fisioterapi Pada Shoulder Traumatic Arthritis




Pengertian

Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada shoulder traumatic arthritis

Tujuan
- Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.

Kebijakan
1. Indikasi:
- Assessment fisioterapi yang temuannya pada kasus shoulder traumatic arthritis
- Intervensi fisioterapi pada shoulder traumatic arthritis
2. Kontra indikasi:
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma
- Osteoporosis

Prosedur
1. Dosis
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah, pada aktualitas rendah dengan dosis intensitas tinggi.
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari, pada aktualitas rendah 3-2 kali seminggu.

2. Teknik aplikasi:
Assesmen Fisioterapi:
1. Anamnesis:
- Ada riwayat trauma
- Nyeri jenis tajam pada bahu dan lengan atas
- Nyeri meningkat pada seluruh gerak bahu
2. Inspeksi:
- Posisi bahu lebih tinggi/asimetri
- Posisi glenohumeral joint pada MLPP
3. Tes cepat
- Abduksi elevasi bahu terjadi gerak reserve humeroscapular rhythm
- Gerak terbatas dengan springy end feel
4. Tes gerak pasif
- Gerak abduksi terbatas springy end feel, rotasi eksternal terbatas springy end feel dan rotasi internal terbatas lebih ringan (capsular pattern)
5. Tes gerak isometric
- Tidak bermakna kecuali bila ada strain
6. Tes khusus
- Joint play movement : traksi pada akhir ROM nyeri, terbatas firm end feel
- Palpasi : spasme otot-otot bahu
7. Pemeriksaan lain
- Tidak diperlukan
3. Diagnosis
Nyeri bahu hingga lengan atas akibat traumatic arthritis
4. Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindakan intervensi fisioterapi
- Perencanaan intervensi secara bertahap
5. Intervensi
- Aktualitas tinggi: RICE
- Lewat 3 hari mobilisasi ringan
- Lewat 1 minggu: mobilisasi sendi
- Lewat 3 minggu: mobilisasi sendi intensif, modalitas SWD
- Terapi latihan: codman pendular exercise, free aktif mobilization exercise, shoulder wheel, dll.
6. Evaluasi
- Nyeri, ROM
7. Dolumentasi
- Rekam fisioterapi dan rekam medic RS.

Unit terkait
- Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada RS

Lampiran
- Juknis assessment
- Juknis RICE
- Juknis joint mobilization
- Juknis mobilisasi sendi aktif

Referensi

Buku Diktat Asuhan Fisioterapi

Asuhan Fisioterapi Pada Arthritis Distal Radioulnar Joint


Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada Arthritis Distal Radioulnar joint

Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal

Kebijakan
1. Indikasi
- Assessment fisioterapi dan temuannya pada kasus Arthritis Distal Radioulnar
- Intervensi fisioterapi pada Arthritis Distal Radioulnar
2. Kontra indikasi:
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma
- Osteoporosis
- TBC tulang

Prosedur
1. Dosis
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah, pada aktualitas rendah dengan dosis intensitas tinggi.
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari, pada aktualitas rendah 3-2 kali seminggu.
2. Teknik aplikasi:
Assesmen Fisioterapi:
1. Anamnesis:
- Nyeri jenis hebat pada masa acute, atau ngilu/pegal pergelangan tangan kadang tangan pada masa kronik
- Nyeri setelah riwayat trauma
- Gerak pronasi-supinasi nyeri dan terbatas
2. Inspeksi
- Posisi sendi radiolnaris MLPP
- ADL: tampak kaku
3. Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
4. Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
5. Tes gerak pasif
- Pronasi dan supinasi nyeri dan terbatas dalam capsular pattern dengan firm end feel
- Nyeri terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
6. Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan keluhan khas
7. Tes khusus
- JPM tes timbul nyeri, terbatas dengan firm end feel
8. Pemeriksaan lain
- X-Ray: penyempitan sela sendi, penebalan tulang subchondrale, osteophyte.
3. Diagnosis
- Capsular pattern radioulnar joint secondary to arthritis distal radioulnar joint
4. Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindakan intervensi fisioterapi
- Perencanaan intervensi secara bertahap
5. Intervensi
- Pada kondisi acute aktualitas tinngi diberikan RICE
? Es diberikan hingga 36 jam sesudah trauma secara intermiten pada tiap 5 menit
? Elastic bandage diaplikasikan pada posisi tangan sedikit dorsal fleksi
- US:
? Continous dosis 0,5 – 1 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 1,5 – 2 watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5 – 7 menit
- Joint mobilization
? Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
? Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Free active mobilization exercise
? Pronasi – suinasi
- Kemungkinan splinting
- Evaluasi
? Nyeri, ROM, dan fungsi tangan
- Dokumentasi
? Rekam fisioterapi dan rekam medic RS.
Unit terkait
- Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada RS

Lampiran
- Juknis assessment Fisioterapi
- Juknis RICE
- Juknis US
- Juknis joint mobilization
- Juknis splinting

Referensi

Buku Diktat Asuhan Fisioterapi

Minggu, 13 Maret 2011

Asuhan Fisioterapi Pada Shoulder Traumatic Arthritis

Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada shoulder traumatic arthritis

Tujuan
- Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal.

Kebijakan
1. Indikasi:
- Assessment fisioterapi yang temuannya pada kasus shoulder traumatic arthritis
- Intervensi fisioterapi pada shoulder traumatic arthritis
2. Kontra indikasi:
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma
- Osteoporosis

Prosedur
1. Dosis
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah, pada aktualitas rendah dengan dosis intensitas tinggi.
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari, pada aktualitas rendah 3-2 kali seminggu.

2. Teknik aplikasi:
Assesmen Fisioterapi:
1. Anamnesis:
- Ada riwayat trauma
- Nyeri jenis tajam pada bahu dan lengan atas
- Nyeri meningkat pada seluruh gerak bahu
2. Inspeksi:
- Posisi bahu lebih tinggi/asimetri
- Posisi glenohumeral joint pada MLPP
3. Tes cepat
- Abduksi elevasi bahu terjadi gerak reserve humeroscapular rhythm
- Gerak terbatas dengan springy end feel
4. Tes gerak pasif
- Gerak abduksi terbatas springy end feel, rotasi eksternal terbatas springy end feel dan rotasi internal terbatas lebih ringan (capsular pattern)
5. Tes gerak isometric
- Tidak bermakna kecuali bila ada strain
6. Tes khusus
- Joint play movement : traksi pada akhir ROM nyeri, terbatas firm end feel
- Palpasi : spasme otot-otot bahu
7. Pemeriksaan lain
- Tidak diperlukan
3. Diagnosis
Nyeri bahu hingga lengan atas akibat traumatic arthritis
4. Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindakan intervensi fisioterapi
- Perencanaan intervensi secara bertahap
5. Intervensi
- Aktualitas tinggi: RICE
- Lewat 3 hari mobilisasi ringan
- Lewat 1 minggu: mobilisasi sendi
- Lewat 3 minggu: mobilisasi sendi intensif, modalitas SWD
- Terapi latihan: codman pendular exercise, free aktif mobilization exercise, shoulder wheel, dll.
6. Evaluasi
- Nyeri, ROM
7. Dolumentasi
- Rekam fisioterapi dan rekam medic RS.

Unit terkait
- Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada RS

Lampiran
- Juknis assessment
- Juknis RICE
- Juknis joint mobilization
- Juknis mobilisasi sendi aktif

Referensi

Buku Diktat Asuhan Fisioterapi

Asuhan Fisioterapi Pada Arthritis Distal Radioulnar Joint


Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada Arthritis Distal Radioulnar joint

Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien dengan hasil yang optimal

Kebijakan
1. Indikasi
- Assessment fisioterapi dan temuannya pada kasus Arthritis Distal Radioulnar
- Intervensi fisioterapi pada Arthritis Distal Radioulnar
2. Kontra indikasi:
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma
- Osteoporosis
- TBC tulang

Prosedur
1. Dosis
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah, pada aktualitas rendah dengan dosis intensitas tinggi.
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari, pada aktualitas rendah 3-2 kali seminggu.
2. Teknik aplikasi:
Assesmen Fisioterapi:
1. Anamnesis:
- Nyeri jenis hebat pada masa acute, atau ngilu/pegal pergelangan tangan kadang tangan pada masa kronik
- Nyeri setelah riwayat trauma
- Gerak pronasi-supinasi nyeri dan terbatas
2. Inspeksi
- Posisi sendi radiolnaris MLPP
- ADL: tampak kaku
3. Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
4. Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
5. Tes gerak pasif
- Pronasi dan supinasi nyeri dan terbatas dalam capsular pattern dengan firm end feel
- Nyeri terbatas pada gerak pronasi-supinasi lengan bawah
6. Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan keluhan khas
7. Tes khusus
- JPM tes timbul nyeri, terbatas dengan firm end feel
8. Pemeriksaan lain
- X-Ray: penyempitan sela sendi, penebalan tulang subchondrale, osteophyte.
3. Diagnosis
- Capsular pattern radioulnar joint secondary to arthritis distal radioulnar joint
4. Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindakan intervensi fisioterapi
- Perencanaan intervensi secara bertahap
5. Intervensi
- Pada kondisi acute aktualitas tinngi diberikan RICE
? Es diberikan hingga 36 jam sesudah trauma secara intermiten pada tiap 5 menit
? Elastic bandage diaplikasikan pada posisi tangan sedikit dorsal fleksi
- US:
? Continous dosis 0,5 – 1 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 1,5 – 2 watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5 – 7 menit
- Joint mobilization
? Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
? Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Free active mobilization exercise
? Pronasi – suinasi
- Kemungkinan splinting
- Evaluasi
? Nyeri, ROM, dan fungsi tangan
- Dokumentasi
? Rekam fisioterapi dan rekam medic RS.
Unit terkait
- Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada RS

Lampiran
- Juknis assessment Fisioterapi
- Juknis RICE
- Juknis US
- Juknis joint mobilization
- Juknis splinting

Referensi

Buku Diktat Asuhan Fisioterapi

Rabu, 26 Januari 2011

Terapi Untuk Sprain dan Strain

Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada ligament (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan stabilitas sendi. Kerusakan yang parah pada ligament atau kapsul sendi dapat menyebabkan ketidakstabilan pada sendi. Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi/peradangan, dan pada beberapa kasus, ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki.

Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon). Strain akut pada struktur muskulo-tendinous terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cidera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada hamstringnya. Beberapa kali cidera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam melangkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-ulang.
Therapist mengkategorikan sprain dan strain berdasarkan berat ringannya cidera. Derajat I (ringan) berupa beberapa stretching atau kerobekan ringan pada otot atau ligament. Derajat II (sedang) berupa kerobekan parsial tetapi masih menyambung. Derajat III (berat) berupa kerobekan penuh pada otot dan ligament, yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.

Terapi

Cidera derajat I biasanya sembuh dengan cepat dengan pemberian istirahat, es, kompresi dan elevasi (RICE). Terapi latihan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas. Cidera derajat II terapinya sama hanya saja ditambah dengan immobilisasi pada daerah yang cidera. Dan derajat III biasanya dilakukan immobilisasi dan kemungkinan pembedahan unutk mengembalikan fungsinya. Kunci pemulihan adalah evaluasi awal oleh seorang profesional medis. Setelah cedera telah ditentukan, rencana perawatan dapat dikembangkan. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan terkilir dan strain akan sembuh tanpa efek samping jangka panjang.