Oleh: KTW dan alat fisioterapi
Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam the Journal of the American Medical Association menunjukkan, penggunaan ponsel sedikitnya 50 menit setiap kali, ternyata mampu mempengaruhi metabolisme glukosa otak khususnya bagian yang paling dekat antena telepon. Peneliti menggunakan tomography emisi positron (PET) selama dalam menggunakan telepon seluler dalam posisi on dan selanjutnya dalam kondisi mati, dan menemukan bahwa meskipun metabolisme seluruh otak tidak terpengaruh, namun terjadi peningkatan metabolisme pada sel-sel otak daerah dari dan sekitar mata serta otak daerahpelipis pada saat telepon seluler menyala, yaitu daerah yang dekat dengan tempat antena telepon di daerah kepala.
Namun tidak diketahui apa arti klinis dari temuan ini, baik yang berhubungan dengan potensial efek terapi dari jenis teknologi ini tetapi juga onsekuensi negatif dari paparan telepon seluler, sperti yang disampaikan peneliti utama, Dr. Nora D. Volkow, dari National Institute on Drug Abuse di Bethesda, Maryland.
Untuk sementara, direkomendasikan menggunakan perangkat hands-free atau mode speaker-telepon untuk menghindari kontak langsung dari telepon seluler dengan kepala. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa jika telepon seluler diletakkan di kaki atau lebih jauh sangat tidak mungkin
untuk memiliki efek seperti itu. Jadi ada beberapa solusi yang mudah yang tidak ada biaya apapun bagi mereka yang ingin mempergunakan secara aman. Hal yang mungkin sangat diperlukan adalah bila digunakan oleh anak-anak dan remaja yang jaringan saraf masih berkembang, dan merupakan populasi yang memulai menggunakan telepon seluler pada kehidupannya dan akan terpapar sampai tahun-tahun mendatang, Dr. Volkow menambahkan.
Minggu, 04 September 2011
GSE (Grape seed extract) Memperbaiki Perlemakan Hati
Oleh: HLA & alat fisioterapi
Perlemakan hati nonalkoholik dijumpai pada 10-24% dari populasi di berbagai negara dan dapat berkembang menjadi penyakit hati tahap akhir (sirosis). Abnormalitas nilai laboratorium yang sering terlihat adalah peningkatan kadar aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT) dalam serum.Meningkatnya kadar asam lemak intrahepatik merupakan sumber stres oksidatif yang akan berperan dalam perkembangan steatosis menjadi steatohepatitis yang akhirnya menjadi sirosis. Belum terdapat terapi standar untuk perlemakan hati non-alkoholik, dan antioksidan diperkirakan bermanfaat.
Terapi yang dapat diberikan pada perlemakan hati non-alkoholik antara lain dari perubahan diet dan penurunan berat badan, insulin sensitizer (metformin), dan ursodeoxycholic acid & obat penurun kadar lipid. Antioksidan pada studi hewan coba, memberikan perlindungan terhadap kerusakan lebih lanjut dari perlemakan hati.
Grape seed extract/GSE (ekstrak biji anggur) dapat menurunkan tingkat keparahan kerusakan organ yang diinduksi oleh iskemik/ reperfusi, menghambat infiltrasi neutrofil, dan mengatur pelepasan mediator inflamasi. Polifenol yang terkandung dalam benih anggur adalah resveratrol, yang dapat mengganggu pertumbuhan dan proliferasi sel kanker serta menginduksi apoptosis.
Studi yang dilakukan Khoshbaten dan rekan-rekan, yang dipublikasikan dalam The Saudi Journal of Gastroenterology tahun 2010, yang membandingkan pemberian GSE dan vitamin C pada pasien dewasa dengan perlemakan hati non-alkoholik. Sebanyak 15 pasien pada masing-masing kelompok mendapat vitamin C 1000 mg tiap 12 jam atau GSE 100 mg. Pasien pada kedua kelompok terdiri dari pasien dengan diabetes melitus, hipertensi, dan hiperlipidemia. Pasien selanjutnya diikutipada bulan pertama, kedua, dan ketiga.
Hasil dari studi ini antara lain: tidak terdapat perbedaan yang bermakna mengenai kadar AST dan alkaline phosphatase (ALP) selama 3 bulan. Namun, kadar ALT menurun secara bermakna pada kelompok GSE. Ukuran hati, limpa, dan vena porta juga dinilai dan tidak menunjukkan perubahan yang bermakan dari ketiga organ tersebut pada kedua kelompok. Kelompok yang mendapat GSE mengalami perbaikan dalam derajat steatosis. Tidak dilaporkan efek samping dari studi ini.
Efek terapetik GSE pada studi ini adalah penurunan kadar ALT dalam serum yang mana ALT nampaknya merupakan parameter yang paling penting dari fungsi hati. Masih belum jelas pula yang mana yang mengalami perbaikan lebih dulu (parameter biokimia yaitu penurunan ALT atau steatosis secara histologis yaitu penurunan derajat steatosis). Namun, semakin lama terapinya, semakin baik pula hasilnya. Dan dari studi ini peneliti menyimpulkan adalah bahwa pemberian GSE selama 3 bulan memberikan efek yang bermanfaat pada pasien dengan perlemakan hati non-alkoholik.
Perlemakan hati nonalkoholik dijumpai pada 10-24% dari populasi di berbagai negara dan dapat berkembang menjadi penyakit hati tahap akhir (sirosis). Abnormalitas nilai laboratorium yang sering terlihat adalah peningkatan kadar aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT) dalam serum.Meningkatnya kadar asam lemak intrahepatik merupakan sumber stres oksidatif yang akan berperan dalam perkembangan steatosis menjadi steatohepatitis yang akhirnya menjadi sirosis. Belum terdapat terapi standar untuk perlemakan hati non-alkoholik, dan antioksidan diperkirakan bermanfaat.
Terapi yang dapat diberikan pada perlemakan hati non-alkoholik antara lain dari perubahan diet dan penurunan berat badan, insulin sensitizer (metformin), dan ursodeoxycholic acid & obat penurun kadar lipid. Antioksidan pada studi hewan coba, memberikan perlindungan terhadap kerusakan lebih lanjut dari perlemakan hati.
Grape seed extract/GSE (ekstrak biji anggur) dapat menurunkan tingkat keparahan kerusakan organ yang diinduksi oleh iskemik/ reperfusi, menghambat infiltrasi neutrofil, dan mengatur pelepasan mediator inflamasi. Polifenol yang terkandung dalam benih anggur adalah resveratrol, yang dapat mengganggu pertumbuhan dan proliferasi sel kanker serta menginduksi apoptosis.
Studi yang dilakukan Khoshbaten dan rekan-rekan, yang dipublikasikan dalam The Saudi Journal of Gastroenterology tahun 2010, yang membandingkan pemberian GSE dan vitamin C pada pasien dewasa dengan perlemakan hati non-alkoholik. Sebanyak 15 pasien pada masing-masing kelompok mendapat vitamin C 1000 mg tiap 12 jam atau GSE 100 mg. Pasien pada kedua kelompok terdiri dari pasien dengan diabetes melitus, hipertensi, dan hiperlipidemia. Pasien selanjutnya diikutipada bulan pertama, kedua, dan ketiga.
Hasil dari studi ini antara lain: tidak terdapat perbedaan yang bermakna mengenai kadar AST dan alkaline phosphatase (ALP) selama 3 bulan. Namun, kadar ALT menurun secara bermakna pada kelompok GSE. Ukuran hati, limpa, dan vena porta juga dinilai dan tidak menunjukkan perubahan yang bermakan dari ketiga organ tersebut pada kedua kelompok. Kelompok yang mendapat GSE mengalami perbaikan dalam derajat steatosis. Tidak dilaporkan efek samping dari studi ini.
Efek terapetik GSE pada studi ini adalah penurunan kadar ALT dalam serum yang mana ALT nampaknya merupakan parameter yang paling penting dari fungsi hati. Masih belum jelas pula yang mana yang mengalami perbaikan lebih dulu (parameter biokimia yaitu penurunan ALT atau steatosis secara histologis yaitu penurunan derajat steatosis). Namun, semakin lama terapinya, semakin baik pula hasilnya. Dan dari studi ini peneliti menyimpulkan adalah bahwa pemberian GSE selama 3 bulan memberikan efek yang bermanfaat pada pasien dengan perlemakan hati non-alkoholik.
Polutan Meningkatkan Risiko Lahir Cacat
Oleh: KTW dan alat fisioterapi
Wanita hamil yang terpapar dengan asap batubara dan pestisida mempunyai kemungkinan hingga empat kali lebih untuk melahirkan bayi dengan cacat tabung saraf (NTD), hal ini berdasarkan dari sebuah penelitian yang dilakukan di Cina. Para peneliti mempelajari terhadap 80 bayi baru lahir dan janin digugurkan dengan cacat otak dan sumsum tulang belakang dan menemukan bahwa plasenta mereka memiliki jumlah jauh lebih tinggi bahan kimia tertentu dibandingkan dengan plasenta bayi tanpa cacat lahir.
Cacat lahir telah lama dikaitkan dengan kekurangan asam folat, ibu obesitas dan diabetes. Pencemaran lingkungan juga telah dicurigai sebagai penyebab lainnya, tetapi belum ada bukti langsung yang sangat sedikit menunjukkan hubungan tersebut.
Dalam penelitian di Cina, peneliti mendeteksi adanya hidrokarbon polisiklik aromatik (PAH) kadar tinggi yang berasal dari menghirup asap pembakaran batu bara, dan pestisida sintetis seperti DDT, hexachlorocyclohexane (HCH) dan endosulfan dalam plasenta bayi dengan NTDs. Selain nutrisi dan oksigen, polutan dapat dengan mudah melewati barier plasenta berpotensi mengganggu pertumbuhan embrio. Hal ini disampaikan oleh peneliti Dr. Zhu Tong di the State Key Joint Laboratory for Environmental Simulation and Pollution Control in Beijing University.
Temuan penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Proceding National Academy of Sciences secara online pada Juli 2011. Dr. Zhu dan rekan melibatkan wanita hamil di empat pedesaan kabupaten di utara provinsi Shanxi, dimana NTD terjadi pada 14 dari setiap 1.000 bayi (jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional). Mereka menganalisis plasenta dari 80 bayi atau janin yang diaborsi dengan NTD dan membandingkannya dengan plasenta dari 50 bayi tanpa cacat tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa, wanita yang memiliki bahan kimia PAH (dari pembakaran batu bara) pada plasenta lebih tinggi daripada tingkat rata-rata, mempunyai 4,5 kali lebih besar untuk memiliki bayi lahir cacat, sementara mereka dengan kadar pestisida yang lebih tinggi dari rata-rata adalah sekitar tiga kali lebih besar untuk memiliki bayi dengan cacat.
Image adopted from www.panda.org
Wanita hamil yang terpapar dengan asap batubara dan pestisida mempunyai kemungkinan hingga empat kali lebih untuk melahirkan bayi dengan cacat tabung saraf (NTD), hal ini berdasarkan dari sebuah penelitian yang dilakukan di Cina. Para peneliti mempelajari terhadap 80 bayi baru lahir dan janin digugurkan dengan cacat otak dan sumsum tulang belakang dan menemukan bahwa plasenta mereka memiliki jumlah jauh lebih tinggi bahan kimia tertentu dibandingkan dengan plasenta bayi tanpa cacat lahir.
Cacat lahir telah lama dikaitkan dengan kekurangan asam folat, ibu obesitas dan diabetes. Pencemaran lingkungan juga telah dicurigai sebagai penyebab lainnya, tetapi belum ada bukti langsung yang sangat sedikit menunjukkan hubungan tersebut.
Dalam penelitian di Cina, peneliti mendeteksi adanya hidrokarbon polisiklik aromatik (PAH) kadar tinggi yang berasal dari menghirup asap pembakaran batu bara, dan pestisida sintetis seperti DDT, hexachlorocyclohexane (HCH) dan endosulfan dalam plasenta bayi dengan NTDs. Selain nutrisi dan oksigen, polutan dapat dengan mudah melewati barier plasenta berpotensi mengganggu pertumbuhan embrio. Hal ini disampaikan oleh peneliti Dr. Zhu Tong di the State Key Joint Laboratory for Environmental Simulation and Pollution Control in Beijing University.
Temuan penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Proceding National Academy of Sciences secara online pada Juli 2011. Dr. Zhu dan rekan melibatkan wanita hamil di empat pedesaan kabupaten di utara provinsi Shanxi, dimana NTD terjadi pada 14 dari setiap 1.000 bayi (jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional). Mereka menganalisis plasenta dari 80 bayi atau janin yang diaborsi dengan NTD dan membandingkannya dengan plasenta dari 50 bayi tanpa cacat tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa, wanita yang memiliki bahan kimia PAH (dari pembakaran batu bara) pada plasenta lebih tinggi daripada tingkat rata-rata, mempunyai 4,5 kali lebih besar untuk memiliki bayi lahir cacat, sementara mereka dengan kadar pestisida yang lebih tinggi dari rata-rata adalah sekitar tiga kali lebih besar untuk memiliki bayi dengan cacat.
Image adopted from www.panda.org
Aktivitas Fisik Secara Reguler Mencegah Penurunan Fungsi Kognitif
Oleh: KTW dan alat fisioterapi
Individu dengan penyakit vaskular atau dengan faktor risiko penyakit vaskular memiliki risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih besar, namun sedikit yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan fungsi kognitif pada populasi ini. Hal ini disampaikan oleh Marie-Noel Vercambre, PhD. dalam penelitiannya yang dipublikasikan dalam jurnal Archive of Internal Medicineedisi juli 2011.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan untuk menilai hubungan antara aktivitas fisik dan penurunan kognitif dari the Womens Antioxidant Cardiovascular Study, suatu penelitian yang dilakukan pada wanita dengan penyakit vaskular dan melibatkan sebanyak 2.809 wanita dengan rentang usia 65 tahun atau lebih. Sedangkan parameter pemeriksaan meliputi fungsi kognitif yang dilakukan dengan wawancara telepon, termasuk 5tes kognisi global, memori verbal, dan kategori kefasihan. Tes dilakukan 3 kali, untuk membandingkan tingkat perubahan tahunan dari skor kognitif dibandingkan dengan tingkat aktivitas fisik total dan energi yang dikeluarkan dalam berjalan.
Hasil studi menemukan kecenderungan yang signifikan antara perbaikan fungsi kognitif dengan dengan peningkatan pengeluaran energi. Aktivitas harian dengan berjalan 30 menit langkah cepat, ini setara dengan perbedaan dalam penurunan kognitif diamati untuk perempuan yang 5sampai 7 tahun lebih muda. Berjalan yang dilakukan secara teratur sangat terkait dengan penurunan kognitif yang lebih lambat.
Kesimpulan dari hasil studi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara reguler, termasuk misalnya berjalan, sering dihubungkan dengan pencegahan penurunan fungsi kognitif pada wanita lanjut usia dengan penyakit vaskuler ataupun faktor risikonya.
Image adopted from www.bbc.co.uk
Individu dengan penyakit vaskular atau dengan faktor risiko penyakit vaskular memiliki risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih besar, namun sedikit yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan fungsi kognitif pada populasi ini. Hal ini disampaikan oleh Marie-Noel Vercambre, PhD. dalam penelitiannya yang dipublikasikan dalam jurnal Archive of Internal Medicineedisi juli 2011.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan untuk menilai hubungan antara aktivitas fisik dan penurunan kognitif dari the Womens Antioxidant Cardiovascular Study, suatu penelitian yang dilakukan pada wanita dengan penyakit vaskular dan melibatkan sebanyak 2.809 wanita dengan rentang usia 65 tahun atau lebih. Sedangkan parameter pemeriksaan meliputi fungsi kognitif yang dilakukan dengan wawancara telepon, termasuk 5tes kognisi global, memori verbal, dan kategori kefasihan. Tes dilakukan 3 kali, untuk membandingkan tingkat perubahan tahunan dari skor kognitif dibandingkan dengan tingkat aktivitas fisik total dan energi yang dikeluarkan dalam berjalan.
Hasil studi menemukan kecenderungan yang signifikan antara perbaikan fungsi kognitif dengan dengan peningkatan pengeluaran energi. Aktivitas harian dengan berjalan 30 menit langkah cepat, ini setara dengan perbedaan dalam penurunan kognitif diamati untuk perempuan yang 5sampai 7 tahun lebih muda. Berjalan yang dilakukan secara teratur sangat terkait dengan penurunan kognitif yang lebih lambat.
Kesimpulan dari hasil studi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara reguler, termasuk misalnya berjalan, sering dihubungkan dengan pencegahan penurunan fungsi kognitif pada wanita lanjut usia dengan penyakit vaskuler ataupun faktor risikonya.
Image adopted from www.bbc.co.uk
Langganan:
Postingan (Atom)