Tampilkan postingan dengan label Sensori Integrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sensori Integrasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Sensori Integrasi


Sensori integrasi adalah kemampuan untuk mengadopsi atau menyerap informasi melalui sensasi (tactile, gerakan, bau, rasa, penglihatan dan pendengaran) untuk diintegrasikan bersama-sama dengan informasi yang telah didapat sebelumnya, memori dan penegtahuan yang telah disimpan diotak untuk menimbulkan respon yang bermakna atau berarti. Menurut A. Jean Ayres, ada beberapa level sensori integrasi, dimana tiap level dari sensori integrasi berlangsung atau berkembang secara otomatis pada masa kanak-kanak dengan perkembangan normal tetapi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan perilaku tersebut harus dibantu untuk mengalami hal yang sama seperti teman sebayanya.

Level I
Toucing atau sentuhan pada seluruh tubuh, dengan sentuhan dan dekapan membuat anak merasa nyaman, respon sentuhan pada bayi yang berkembang awal adalah pada daerah wajah terutama sekitar mulut, pipi dan dahi. Ketika kita memberikan sentuhan pada daerah pipi bayi akan merespon untuk menoleh dan mencari puting susu ibunya dan selanjutnya bayi akan menghisap. Pada orang sudah terbiasa menggendong bayi, bayi akan merasa nyaman dalam pelukannya,tetapi tidak akan merasa nyaman baginya kalau orang menggendongnya tidak pernah menggendong bayi. Hal tersebut merupakan reaksi atau naluri melindungi tubuhnya. Pada anak yang mengalami gangguan pada sensori integrasinya, gejala awal yang timbul, ia sulit beradaptasi terhadap suhu luar rahim, tidak nyaman dalam semua skap, tidak merespon ketika diberi rangsangan disekitar mulut. Vestibular dan Proprioseptive juga sulit untuk dikerjakan bersama-sama seperti halnya ketika anak mengalami keterlambatan, kurang merespon terhadap rangsangan cahaya dimatanya, ia juga sulit untuk mengontrol kepala untuk tegak. Pada anak normal apabila ada rangsangan cahaya dia akan merespon mengikuti arah cahaya dan posisi kepala akan timbul reflex untuk menegakkan saat digendong bersandar didada ibunya atau saat badan digulingkan untuk mengganti popok.
Tactile, kulit adalah alarm tubuh. Alat tersebut menggambarkan nyaman atau tidaknya tubuh, contohnya saat tubuh melawan gravitasi (tempat tinggi) kalau semua sensori dapat bekerja bersama-sama hal tersebut tidak masalah bagi tubuh dan akan berlaku dimana dia berada dan bergerak secara alamiah.

Level II
Tactile, vestibular dan proprioceptive merupakan suatu susunan bolak balik untuk menstabilkan emosi anak. Jika 3 dasar sensori ini tidak berfungsi secara cepat anak akan kurang peka terhadap lingkungannya. Ada anak yang pendiam kurang merespon dan sangat sulit beradaptasi dengan orang lain. Ada juga anak yang hiperaktif dan semua rangsangan yang diterima oleh telinga, mata sangat cepat memberikan reaksi terhadap tubuhnya. Hal tersebut bukan karena ada masalah dipendengaran atau penglihatan tetapi proses sensorinya yang tidak stabil walau ia sangat aktif, sehingga ia sangat sulit untuk konsentrasinya. Otaknya mengalami kesulitan untuk berfokus pada sesuatu. Hal tersebut menyebabkan sulit untuk koordinasi dan motor planningnya mengalami gangguan pada analisa tugasnya.

Sabtu, 05 Maret 2011

Sensori Integrasi

Aktivitas integrasi sensomotorik adalah merupakan suatu program yang mengaplikasikan  berbagai aktivitas sistem sensoris : visual, vestibular, somatosensoris, yang dipunyai oleh individu, diintegrasikan dengan aktivitas motorik (gerak) untuk mencapai suatu gerak halus, terarah, bertujuan dan berfungsi.Pada seorang individu agar dapat melakukan berbagai aktivitas baik, bertujuan dan befungsi disyaratkan aktivitas i sistem tubuh selalu bekerja sama dan terintegrasi.  

Sistem sensomotorik ini mencakup visual / penglihatan, vestibular / keseimbangan yang terletak di ruang telinga dalam, dan somatosensoris / proprioseptif / rasa dalam termasul eks-proprioseptif. “Sensory integrity” dalam sistem yang ada dalam tubuh manusia adalah: vestibular/keseimbangan,opticus/visual, ocular/coordinasi, yang terintegrasi dalam satu kesatuan gerakan di sistem manusia.  

Aktivitas senso-motorik merupakan suatu gabungan dari berbagai sistem sensoris seperti visual, olfactory, vestibular, somatosensoris dengan sistem motoris / gerak individu.  


PEMERIKSAAN PADA ANAK

Motor Impairments and fine motor
Functional Limitation

Voluntary Motor Impairment Assessments

Pemeriksaan Reflex

Pada upper motor neuron syndrome fenomena yang akan timbul (Kart & Rymer, 1989) adalah:

    1. Abnormal behaviour (positive symptom) yang terdiri dari: “reflex release phenomena (refleks patologis), reflex proproseptif yang hiperaktif, meningkatnya resisten teerhadap tarikan atau uluran, “relaxed cutaneous reflexes dan “loss of precise autonomic control”; dan

  2. Performance deficit ( negative symptome) yang terdiri dari: “decreased dexterity”, paresis/weakness, “fatigability”. 

Berdasarkan dari fenomena yang tampak maka pemeriksaan reflex yang dilakukan adalah “Neurologic Assessment”, yang diperiksa adalah :

- Tendon reflex (monosynaptic reflex arc),
- H-Reflex (monosynaptic stretch reflex),
- H-Reflex recovery cycle (motor neuron excitability),
- Presynaptic Inhabitation (related to spasticity, 
- F-Response, Long-lasting stretch reflex,
- Tonic Vibration reflex,
- Flexor reflex (polysynaptic defence response).