Minggu, 13 Maret 2011

Problematik Fisioterapi Pada Usia Lanjut


Pada sistem Muskuloskeletel : problematik fisioterapi pada usia lanjut dapat di sebabkan oleh :

1.Degenerative Disorders

2.Disorders of Bone

3.Musculoskeletal Injuries

4.Inflamatory Desorders of Bones and Joints

Menurut ICD (International Classification of Disease) :

1.Degenarative Disoders bisa berupa :

Osteoarthritis pada sendi perifer, misal : Coxartosis atau gonartrosis

Spondylosis pada Cervical atau lumbosacral

2.Disorders of Bone bisa berupa :

Osteoporosis

3.Muculoskeletal Injuries bisa berupa :

Fraktur

4. Inflamatory Disorder of Bones and Joints

Rheumatik arthritis, polymyositis, S-H syndrom, syndrom titze. Penyakit-penyakit tersebut tidak bisa ditangani langsung oleh fisioterapi tapi hanya berupa penyebab dari permasalahan yang fisioterapi hadapi. Sesuai dengan IC/DH dan objek formal fisioterapi, maka objek terpi fisioterapi pada kondisi-kondisi diatas antara lain berupa :

  1. Keterbatasan sendi (stiff joint)
  2. Nyeri (pain)
  3. Kelemahan otot (weakness)
  4. Kontraktur/Disuse atropi
  5. Proses inflamatory (peradangan non bakterial)
  6. Segmental disregulasi (gangguan saraf otonom)
  7. Gangguan postural
  8. Hipermobility/instability
  9. Penurunan/keterbatasan aktivitas fungsional

Kesembilan objek terapi fisioterapi diatas merupakan problematik utama yang paling dominan pada fisioterapi usia lanjut dengan gangguan sistem musculoskeletal. Namun demikian, setiap item akan berbeda intervensi fisioterapinya, tergantung dari letak gangguan anatominya serta penyebabnya. Disamping itu, perlu diklasifikasi lebih jauh dan lengkap dari masing-masing problematik.

Sebagai Contoh

a. Keterbatasan sendi pada knee joint (articulatio genu) bagian dextra S.0°-10°-45°. Akibat proses degeneratif osthearthrosis. Keterbatasan sendi bersifat arthrogen.

b. Keterbatasan sendi pada knee joint (articulatio genu) bagian dextra S.0°-20°-135°. Akibat kontraktur Musculus Hamstring pasca inmobilisasi.

Dari sudut patofisiologi a dan b sangat berbeda. Pada a, gangguan sendi terjadi pada intra articular sedangkan b terdapat pada extra articular. Pada a bisa diintervensi dengan pemberian teknik manual, sedangkan pada b, diintervensi dengan pemberian strecthing atau contrax relax (PNF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar